Rahmad Salahuddin salah satu peserta Kelas Online “90 Hari Menulis Buku “
- Advertisement

Sejak 2 Maret 2020, saat awal Covid-19 masuk ke Indonesia dan hingga hari menyebar secara cepat hampir angka 2.491, kita sudah belajar banyak tentang ini dari berbagai media yang ada, saat ini mungkin kita mendadak seorang ahli kesehatan, atau seorang ahli tafsir yang setiap permasalahan dicarikan dalil yang menguatknya, atau seorang wartawan dengan cara menshare setiap informasi dari watshaap tanpa sedikitpun menguji apakah itu berita benar atau hoax, atau bahkan menjadi seorang politikus yang selalu mengkritisi setiap kebijakan dari pemerintah. Karena hal ini sudah menjadi fitrah kita untuk mencari tahu pada setiap permasalahan yang muncul di sekitar kita. Dan Allah sendiri menugaskan kepada setiap manusia untuk selalu membaca tentang kausalitas permasalahan yang ada di sekitar kita “iqra’ bismirabbika ladzi kholaq”.

Oleh karena itu sudah saatnya kita merenungkan, berdzikir, untuk menemukan sisi kebaikan dari pandemi ini, karena dengan menemukan sisi kebaikan, merupakan perwujudan dari cara kita berkhuznudzon kepada Allah Swt. Dengan menemukan kebaikan, sesunguhnya kita telah belajar menghilangkan persepsi tidak baik, karena persepsi tersebut menjerumuskan kita pada perbuatan dosa, (QS. Al-Hujurat: 12)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”

Dengan Covid -19 kita telah belajar bagaimana cara bertaqwa dan bertawadu’ dengan benar kepada Allah. Karena tanpa pertolongan Allah, kita ini tidak berarti apa. Kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki, ternyata tidak mampu menghadapi makhluk Allah yang tak kasat mata. Setelah redahnya pandemi ini musti kita telah menjadi hamba yang tawadhu’, tidak sombong, tidak merasa paling hebat. Karena dengan kesombongan tersebut akan menjerumuskan kepada sikap kufur (menolak perintah kebaikan) atau kesesatan. Tentang kasus ini kita sudah belajar dari Iblis. Dicap oleh Allah sebagai Iblis karena menolak perintahnya sujud kepada nabi Adam, karena keseombongannya. Ia merasa penciptaan dirinya lebih baik dari pada penciptaan adam.

Covid-19 memberikan pelajaran kepada kita untuk manjadi muslim sesungguhnya. Setiap muslim terhadap muslim lain atau sesama manusia, memiliki kewajiban untuk melindungi hak-hak orang lain. Salah satunya adalah menjaga keselamatan orang lain, dan sikap ini merupakan perwujudan (manifestasi) dari kalimat salam yang selalu kita ucapkan saat kita bertemu. Kalimat salam yang kita ucapkan sesungguhnya memberikan jaminan keselamatan kepada orang-orang yang kita temui. Dengan menerapkan etika batuk yang benar, baik mengikuti anjuran para ahli medis, atau mengikuti teladan Rasulullah dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, serta menjaga jarak dalam bersosial, merupakan salah satu penerapan yang paling mudah kita lakukan untuk mewujudkan nilai-nilai salam tersebut.

Terhadap himbauan pemerintah yang meminimalkan berinteraksi dengan orang lain di masjid, terutama di wilayah zona merah penyebaran Covid-19, bukanlah hal yang perlu kita perdebatkan. Memang sangat sulit bagi orang yang sudah terbiasa datang ke masjid, namun himbauan ini tidak berlaku bagi orang yang tidak terbiasa ke masjid. Yang lebih penting dalam pelajaran ini adalah, bagaimana kita mampu menghadirkan Masjid dalam kehidupan kita. Banyak tradisi dan budaya masjid yang kita bisa terapkan, diantaranya adalah:

Pertama, Berperilaku hidup bersih, karena setiap kita datang ke masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah, kita harus terjaga dalam keadaan suci dari najis dan hadas.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Kedua, Dimasjid kita bisa belajar hidup disiplin, selalu memperhatikan waktu-waktu dalam melaksanakn ibadah kepada Allah

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا

Laksanakan Shalat Sejak Matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan laksanakan pula shalat subuh. Sungguh shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat (QS. Al-Isra’ [17]: 78)
Buya Hamka pernah mengatakan: “Waktu bagi orang Islam adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan”

Ketiga, Dari Masjid kita belajar hidup dalam kebersamaan dan kebinekaan. Kita kita pernah menanyakan seseorang dari mana, dari golongan apa, dan dari paham apa, ketika hendak melakukan shalat berjama’ah. Kita yakin bahwa mereka yang hadir dalam melaksanakan shalat berjamaah adalah sudara kita. bahkan seorang imampun selalu mengingatkan untuk merapat shaf, saat shalat akan dimulai, karena dengan merapatkan shaf merupakan kesempurnaan dari shalat berjam’ah.

Keempat, Dari masjid kita belajar hidup untuk tau diri. Sebagai makmun jika mendengarkan bacaan imam yang salah, atau perbuatan dalam shalat yang keliru, maka diingatkan atau ditegur dengan cara mengucapkan “subhanallah” bagi jamaah laki-laki atau bertepuk sekali, bagi jama’ah perempuan. begitupun bagi imam, jika tahu kesalahannya maka suara makmum harus didengarkan, bukan membantah. Jika itu terjadi maka proses shalat berjamaah jadi tidak sah, atau bahkan bubar Jika imam harus mundur karena batal, makmum tidak perlu diskusi, maka makmum yang berada di belakang imam berkewajiban untuk menggantikannya, dan memimpin jamaah. Itulah etika yang mesti kita terapkan dalam kehidupan kita.

Semoga kita bisa belajar kebaikan dari pandemi ini. Amin

#90HariMenulisBuku
#InspirasiIndonesiaMenulis
#DiRumahAja
#SajadahQalbu2020

©Rahmad Salahuddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here