“KALA RAMADHAN KAN BERAKHIR”

“KALA RAMADHAN KAN BERAKHIR”

Oleh : Siti Zulaikha

Tinggal beberapa hari lagi. Dan bulan Ramadhan yang mulia ini meninggalkan kita. Ramadhan istimewa di tengah pandemi corona. Kemuliaannya tak terkurangi sedikitpun meski ada wabah melingkupinya. Justru, adanya wabah seolah menjadi seleksi alam, siapa yang masih istiqomah  mengisi siang dan malamnya dengan amalan istimewa.

Namun jangan salah. Bukan berarti beramal sholih di luar bulan Ramadhan tidak istimewa. Karena setiap amal seorang muslim yang mengikuti tuntunan syara’ dan dijalankan dengan penuh keikhlasan semata mengharap ridhoNya, itulah amalan yan istimewa. Jangan salah sangka juga. Bukan berarti amalan istimewa hanya sekadar ibadah mahdhah semata. Tapi melingkupi semua aktivitas yang diridhai oleh Allah SWT, termasuk di dalamnya syiar Islam untuk meninggikan  dan kemuliaan syariah Islam.

Lalu, bagaimana rasanya meninggalkan atau ditinggalkan bulan Ramadhan? Pasti masing-masing kita punya makna dan rasa sendiri-sendiri. Ketika kita masih memaknai Ramadhan sebagai beban karena ada kewajiban berpuasa, bisa jadi menyelesaikan Ramadhan akan dibarengi dengan rasa syukur karena sudah bisa menyelesaikan kewajibannya.

Beda lagi jika kita memaknai Ramadhan sebagai bulan muhasabah, bulan pendidikan, serta bulan perjuangan. Maka keluar dari Ramadhan kita akan mencari jawaban. Sudah naikkah level kita dihadapanNya. “Prestasi” apa yang sudah kita torehkan di sepanjang bulan mulia itu.  Kebaikan-kebaikan apakah yang berhasil lazimkan selama berproses di dalamnya? Sekali lagi, hanya kita sendirilah yang mampu menilainya.

Yang pasti, apapaun yang diraih seorang muslim di bulan Ramadhan, pasti bukan sebuah kemaksiatan. Karena dia pasti memahami, bahwa diwajibkannya puasa bagi seorang muslim semata-mata hanya untuk muara “taqwa”. Dan ketaqwaan pasti membuatnya berhati-hati dalam mengambil semua keputusan.

Tinggal satu hal yang menjadi PR kita semua dalam 11 bulan ke depan. Mampukah kita menjaga semua kebaikan dalam bingkai keistiqomahan? Sementara kita juga pasti memahami, istiqomah dalam ketaatan bukan sekedar sebuah anjuran. Bahkan istiqomah adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana Allah SWT menyampaikan dalam firmanNya  : “ Fastaqim kamaa umirta…” Beristiqomahlah kamu sebagaimana telah diperintahkankan kepadamu… (Surat Hud: 112).

Untuk itulah, perlu kita siapkan plan lanjutan sesudah Ramadhan ini. Agar, kemuliaannya membuat kita benar-benar berarti. Bukan saja sebagai diri, tapi sekaligus sebagai bagian dari umat terbaik (khoiru ummat)  yang berkewajiban mengemban risalah mulia dien ini ke seluruh penjuru negeri.

#90HariMenulisBuku

#InspirasiIndonesiaMenulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here