Siti Mustiyani Pengusaha Kripik Usus Kobong
- Advertisement

SIDOARJO – inilah kisah inspiratif Siti Mustiyani pemilik kripik usus ‘KOBONG’ di Sidoarjo.

Siti Mustiyani atau yang biasa dipanggil dengan Yani, membeberkan perjuangannya jatuh bangun dalam mengembangkan bisnis kripik usus.

Bagaimana Yani bisa sukses sebagai pelaku usaha? Simak ulasannya!

Menjadi pengusaha, tentu membutuhkan kegigihan dan rasa percaya diri. Tidak hanya itu, kreativitas juga perlu ditanamkan bagi para pelaku usaha.

Begitu juga yang diterapkan oleh Yani. Yani merupakan pemilik usaha kripik usus KOBONG memiliki motivasi hidup yang menginpirasi.

Yani adalah entrepreneur muda yang cukup menginpirasi kaum pemuda-pemudi. Pasalnya baru berusia 26 tahun namun dia sudah berjalan sukses dengan bisnisnya yang telah ditekuni sejak lama.

Ia membangun usaha kripik usus dengan desain yang cukup unik. Tak jarang jika banyak yang tertarik dengan kripik usus yang ia buat. Selain rasanya yang enak, kripik ususnya juga memiliki branding yang cukup menarik daya darik.

Kok bisa namanya KOBONG sih?

Yani membeberkan bahwa nama kobong berasal dari makanan pedas.

“Jadi nama KOBONG sendiri karena saya adalah penyuka makanan pedas, dan akhirnya terpikirkan nama tersebut.” Ucap Yani

Nama kobong sendiri adalah berasal dari bahasa jawa yang artinya ‘kebakaran’

Yani (Pengusaha Muda) dan Kang didin (CEO KEKOPI)

“ Yang penting mulai aja dulu jangan takut gagal, mulai lah dari hal-hal terkecil jika ingin sukses.” Ucap CEO KEKOPI Bpk M. A. Burhanudin, ST., MM. Atau yang biasa dipanggil Kang Didin

Awalnya Yani memproduksi kripiknya sendiri. Dan sekarang Ia telah memiliki beberapa karyawan yang terdiri dari pelajar dan ibu-ibu rumah tangga. Bagi Yani pekerjaan yang diberikan terbilang tidak terikat oleh waktu dan sangat fleksibel. Pasalnya para pelajar memulai pekerjaan tersebut sepulang dari Sekolah.

Tidak hanya diminati kaum pemuda kripik tersebut juga diminati para ibu-ibu dan juga anak-anak. Rasanya memang pedas namun, pedasnya masih terbilang tidak terlalu pedas.

Lantas bagaimana perjuangan Yani membangun usahanya?

Sebelumnya, usaha yang dirilis memang terbilang banyak. Yani juga mengalami jatuh bangun dalam usahanya. Karena usaha dan kerja keras lah yang membuat Yani bangkit dari jatuhnya.

“Kalau ngomongin brand sih udah banyak tapi kalau ditanya brandnya apa aja belum bisa jawab, intinya bangkit dari kegagalan dan terus mencoba.” Ujar Yani

Untuk pemasaran sendiri, kripik kobong memiliki akun instagram resmi yaitu kobong_official. Mengetahui bahwa instagram memang tempat para pemuda-pemudi bersosial media. Namun tidak hanya di Instagram pemasarannya juga sudah disebar luaskan di berbagai daerah Sidoarjo.

Apa alasan Yani membuat kripik usus? Masih banyak refrensi lain kan?

Tentunya kripik usus adalah yang sangat diminati banyak kalangan. Yani tidak takut gagal dalam usahanya kali ini. Yani membeberkan bahwa ia memiliki brand yang cukup unik. Ia mengambil keputusan kripik usus dan lalu mengolahnya sendiri.

Harga yang dipatok adalah Rp. 25.000,-. Terbilang murah dengan desain branding yang menarik.

Semangat yang perlu dicontoh untuk para pemuda yang ingin menjadi entrepreneur. Karena memang semua hal tidak ada yang instan harus mengalami jatuh bangun, lalu bangkit sampai akhirnya berhasil.

“Terus semangat jangan pantang menyerah, jangan malas dan terus bangkit dari kegagalan.” Ujar Yani sebagai penutup jurnal kita.

(Wildiana Kusuma)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here