Menyambut Lebaran di tengah Pandemi Covid 19

Menyambut Lebaran di Tengah Pandemi COVID-19

By: Nurul Hidayati,S.Pd.,M.Pd.I

Sunset ramadhan beranjak pergi,

berganti fajar syawal di pagi hari,

membawa cahaya kedamaian,

 dipenghujung ramadhan,

 menebarkan berkah,

 di hari kemenangan.

 Selamat Idul Fitri 1441 H.

Taqabbalallahu minna wa minkum.

 Minal aidin walfaizin.

     Pulang ke kampung halaman atau mudik sudah menjadi tradisi  di kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia, terutama saat lebaran Idul Fiitri. Warga masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim pasti selalu melaksanakan tradisi mudik untuk merayakan lebaran bersama sanak famili di kampung halaman masing-masing. Mereka berkumpul dan bersama-sama merayakan idul fitri dengan berbagai acara yang menyenangkan, bersilaturahmi, saling memaafkan kepada sanak famili, saudara, dan tetangga sekitar.

     Namun suasana Lebaran pada tahun 2020 ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya seiring ada pandemi COVID-19. Selama pandemi COVID-19 ini, ada sejumlah anjuran dan protokol kesehatan dari pemerintah yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.

     Anjuran pemerintah untuk melakukan aktivitas di rumah mulai dari bekerja, belajar dan beribadah, phisical distancing, social distancing, pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar / PSBB di sejumlah daerah.

     Menerapkan protokol kesehatan, dengan cara jaga kebersihan tangan, jangan menyentuh wajah, terapkan etika batuk dan bersin, pakai masker, jaga jarak, isolasi mandiri, jaga kesehatan dan istirahat yang cukup.

     Pemerintah juga mengeluarkan larangan mudik bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memutus rantai penyebaran Corona COVID-19.

     Namun agar stabilitas ekonomi masyarakat tetap terjaga, maka pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang membolehkan masyarakat usia 45 tahun ke bawah untuk kembali menjalankan aktivitas pekerjaannya karena dipandang lebih aman dari resiko terkena infeksi virus. Sekaligus dalam rangka menyambut New normal.  Yaitu perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun tetap menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penularan COVID-19.

     Dampak pandemi Covid-19  sangat dirasakan masyarakat Indonesia,  tak terkecuali  para perantau yang mengadu nasib di kota lain. Para perantau tak hanya dihadapkan pada pilihan tidak bisa mudik saat libur lebaran, melainkan juga harus berjuang bertahan hidup tanpa sanak keluarga di kota lain selama pandemi Covid-19. Apalagi kalau wilayahnya sudah terdeteksi zona merah. Maka dipastikan tidak bisa pergi ke daerah lain sampai keadaan normal kembali.

     Tahun ini ada yang berencana pulang kampung dan berkumpul bersama sanak keluarga setelah lima tahun mengumpulkan pundi- pundi uang itu, namun keinginan itu harus tertunda lagi karena pandemi Covid-19.

     Ada yang ingin mudik karena alasan ekonomi tak sanggup bertahan hidup di kota itu, kebutuhan yang semakin mendesak dan tidak mencukupi karena di PHK dari tempat kerjanya, tetapi dia harus bertahan di tengah wabah virus corona di kota itu yang jauh dari kampung halamannya.

     Perasaannya campur aduk, sedih karena tidak bisa mudik, khawatir kondisi keluarga di kampung halaman, kangen anak, istri, saudara, dan orang tua yang sudah tua renta dan lain-lain alasan. Mereka harus memendam semua rasa itu karena  ada kewajiban bukan hanya menafkahi keluarga, melainkan juga memastikan bahwa dirinya tak menjadi carrier (pembawa) virus corona bagi keluarga. Jadi untuk kebaikan semuanya, kita harus berani memutuskan sebaiknya tidak  mudik dulu.

     Itula sekelumit ungkapan perasaan sedih yang menyayat beberapa masyarakat kita, ketika diterapkannya larangan mudik bagi warga Indonesia.

     Idul Fitri yang seharusnya dijadikan momen berkumpul bersama keluarga serta melepas penat setelah setahun mengumpulkan pundi-pundi penghasilan di kota lain pun terkubur sementara.  Himbauan pemerintah kepada masyarakat agar tak mudik saat Idul Fitri guna memutus mata rantai penularan virus corona COVID-19 terus digencarkan.

     “Mungkin ini saatnya kita kembali menghayati makna lebaran, hari yang fitri dan menyucikan diri. Yang penting adalah ibadahnya,” Ujar Dosen Psikologi Untag Surabaya, Karolin Rista saat dihubungi Liputan 6.com, Minggu (17/5/2020).

     Lebih lanjut ia menuturkan, secara psikologi, seseorang harus menerima situasi saat ini termasuk suasana lebaran yang akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia mengatakan, jika semakin menyangkal, maka semakin sulit menerima. “Kalau tidak mudik itu bukan masalah besar, karena bukan hanya kita saja yang tidak dapat mudik tetapi seluruh masyarakat Indonesia.” Tuturnya menambahkan.

     Bermaaf-maafan sudah menjadi kebiasaan yang umum dan berlangsung di Indonesia. Namun, untuk saat ini demi memutus mata rantai penularan virus corona COVID-19, meminta maaf tidak harus bertemu langsung tetapi bisa mengucapkannya dan mengungkapkan kerinduan  melalui telepon, video call,  atau mengirimkan pesan.

    Agar tidak terlarut dalam kondisi  pandemi COVID-19 yang sekarang ini, mungkin kita harus menemukan ide kreatif agar suasana menyambut lebaran tetap semangat dan menyenangkan serta dengan tidak mengurangi makna lebaran itu sendiri.

     Misalnya kita rayakan secara daring atau on line seperti yang sudah kita lakukan saat kita bekerja di rumah dengan work from home ( WFH), daring anak-anak belajar dengan gurunya di rumah, atau agar lebih meriah lagi dipadu dengan memakai dresscode yang sama, saling mengirimkan barang spesial, atau bahkan yang lebih bermanfaat lagi memberikan “sesuatu” kepada orang yang membutuhkan sebagai tanda syukur kita karena telah di pertemukan dengan lebaran di tahun ini.

#IedMubarak

#90HariMenulisBuku

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here