Kang Didin; Mantan BOS bank yang kini menjelma menjadi pengusaha penguasa Sidoarjo
- Advertisement

SIDOARJO – Tak banyak orang yang mau keluar dari zona nyaman untuk kemudian masuk ke wilayah di mana dia harus memulai sesuatu dari nol lagi. Salah satu orang yang berani mengambil jalan tersebut adalah Muhammad Agus Burhanudin, ST, MM, atau biasa disapa Kang Didin.
Lelaki kelahiran Mojokerto, bulan Agustus, 41 tahun ini rela melepas jabatannya sebagai Business Manager Bank Internasional Indonesia KCP Sidoarjo untuk berbisnis. Dan, pilihannya kelak tidak salah, meskipun dia harus berulang kali gagal dulu.

Kini, berkibar dengan bendera PT. Duta Asia Nusantara, usaha Periklanan milik Kang Didin bisa mendulang omzet Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar per bulan. Ada ratusan klien lokal yang sudah ditangani oleh Kang Didin, serta klien manca negara yang sudah menjadi mitra tetapnya.

Tentu, perjuangan untuk bisa meraih itu semua tidak mudah. Sambil kuliah di Jurusan Teknik Permesinan Kapal ITS Surabaya, Kang Didin menyambi kerja di Warung Makan sekitar kampus sebagai tukang cuci piring. Setelah lulus kuliah pada 2000 silam, dia sempat bekerja di ANZ Panin Bank Surabaya dan Standart Chartered Bank Surabaya, sebelum memutuskan bergabung dengan Bank Internasional Indonesia pada tahun 2002.

Enam tahun berkarier di BII, ia pindah ke Bank Mega Syariah. Tapi, Kang Didin hanya bertahan setahun dan memutuskan untuk berwirausaha, dengan posisi terakhir sebagai Marketing Manager untuk wilayah Karesidenan kediri. “Saya merasa jenuh dengan rutinitas yang dijalani,” katanya.

Dan, kalau terus melanjutkan karier sebagai karyawan, menurut Kang Didin, kehidupan dirinya tidak bisa lebih maju. Padahal sejatinya, pasca berhenti jadi karyawan, dia juga belum tahu mau berbisnis apa. Alhasil, ia pun mencoba berbagai jenis usaha, mulai menjalani marketing property, jual beli motor hingga jualan mobil. Namun, itu tidak bertahan lama, hanya setahun.

Kemudian, dia tertarik berbisnis Periklanan dan mendirikan DUTA ASIA Advertising, tetapi waktu itu belum fokus. Lagi-lagi, perkembangan bisnisnya tak sesuai harapan. Kang Didin pun memutuskan untuk berjualan STMJ di alon-alon Sidoarjo. “Bisa dikatakan, saat itu DUTA ASIA Advertising mati suri,” ujarnya. Satu bulan, dua bulan, usaha STMJ miliknya belum ada perkembangan berarti. Tapi, bermodal keuletan dan semangat yang tinggi, Kang Didin berhasil mengumpulkan cukup uang selama usaha STMJ ini. Namun untuk memenuhi kebutuhan yang semakin mahal, belum bisa memenuhi.

Tapi, Kang Didin tidak patah arah. Dia masih punya DUTA ASIA Advertising yang sedang mati suri. Lantas, ia pun membangkitkan lagi usaha Advertisingnya pada tahun 2012. “Semua saya mulai lagi sendirian, dari bikin pamflet, menawarkan langsung, hingga naik angkutan umum jadi keseharian yang harus saya lakukan,” kenangnya.

Usahanya tidak sia-sia. Berhasil mendapatkan kepercayaan mengelola sebuah iklan billboard sebuah bank swasta nasional di Surabaya, Kang Didin pun habis-habisan memanfaatkan peluang itu. Hasilnya, iklan yang dia kerjakan ketika itu terbilang sukses. Dia mulai memperoleh uang untuk modal plus jalur perkenalan dengan banyak pihak. Meski begitu, tetap saja ada ujian yang harus dia lakoni. Salah satu karyawannya, membawa lari keuangan perusahaan yang cukup besar. “Untung masih ada uang cadangan,” ujarnya.

Dari situ, dia mulai fokus menggeluti bisnis advertising. Sebetulnya, sudah banyak perusahaan advertising di Surabaya, bahkan jumlahnya ratusan, namun Kang Didin tetap yakin, bahwa perusahaan yang ia dirikan bisa sukses. Memang, tantangannya lebih berat lantaran harus berusaha bangkit di tengah kepungan ratusan perusahaan periklanan di sekitar DUTA ASIA Advertising di Surabaya bahkan penjuru nusantara. Mau tidak mau, ia harus bekerja keras, mulai mencari informasi di dunia maya hingga mendatangi langsung perusahaan-perusahaan yang menjadi terget marketnya.

Untuk itu, dia membentuk tim khusus yang di pimpin oleh Joko Ario, orang kepercayaannya untuk melakukan pemasaran sekaligus menganalisa market serta mapping area, dengan berbagai kriteria, untuk menentukan siapa yang menjadi target utama, target kedua dan selanjutnya. Selain itu, Kang Didin menuturkan, karena bisnis advertising sebenarnya adalah menawarkan jasa atau konsep, maka ketika awal memulai usaha ini juga tidak mudah. Seringkali, konsep yang ia tawarkan dipandang kurang menjual. Tapi, itu tak membuatnya kecil hati. “Malah kritik itu menjadikan saya lebih kuat secara mental,” tegasnya.

Seiring waktu berjalan, bisnis advertising miliknya terus berkembang. Nama DUTA ASIA Advertising mulai naik pamor ketika berhasil bekerjasama dengan Nestle, Jakarta, dalam proyek iklan billboard nasional. Kalau dulu, Kang Didin yang kerja keras menawarkan jasa / konsep ke calon mitra. Kini, DUTA ASIA Advertising tinggal menunggu penawaran yang datang. Banyak yang sudah melakukan repeat order karena kepuaasan pelayanannya. “Semua memang butuh proses, tidak bisa instan,” ungkapnya.

Bagi Kang Didin, apa yang dia lakukan saat ini merupakan sebuah kebanggaan. Sebab, ikut serta dalam upaya menjaga dan meramaikan dunia periklanan nusantara. Ke depan, Kang Didin juga terus berupaya untuk menjelajah Indonesia melalui bisnis advertising yang ia jalani ini.

@Lia Andini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here