Sumber gambar: Google
- Advertisement

Sobat. Yang paling berbahaya diantara hal-hal tersembunyi itu adalah ragu terhadap rezeki Allah SWT. Sebab, tidak yakin terhadap rezeki-Nya berarti tidak yakin terhadap Allah sebagai Zat Pemberi Rezeki. Sungguh dunia ini terlalu hina untuk dicemaskan. Demikian penjelasan Ibnu Athaillah.

Sobat. Jika kita orang yang cermat, kita pasti mencemaskan masalah yang lebih besar, yaitu masalah akherat. Sungguh bodoh orang yang mengabaikan masalah besar dan malah mencemaskan masalah kecil! Karena itu, kerjakanlah semua perintah Allah, agar apa yang menjadi kewajiban-Nya kepadamu terlaksana. Kalau serangga, tokek, dan cacing saja diberi rezeki, akankah kita dilupakan? Allah SWT berfirman :

132. dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kamilah yang memberi

rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. ( QS.           Thaha (20) : 132 )

Sobat. Manusia yang mencemaskan masalah rezeki sejatinya dia sedang jauh dari Allah SWT. Andai seorang berkata kepadamu, “ Besok Engkau tidak usah bekerja, aku akan memberimu 10 juta.” Niscaya engkau percaya dan mematuhi perintahnya. Padahal sesungguhnya dia adalah makhluk fakir yang tidak bisa memberimu manfaat ataupun mudharat. Lalu, mengapa engkau tidak juga merasa tenang dengan jaminan rezeki seumur hidup yang dijanjikan Allah Sang Mahakaya lagi Mahamulia :

6. dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya . semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). ( QS. Hud (11) : 6 )

Sobat. Salah satu ciri kelalaian dan pandangan hidup sempit adalah mencemaskan sesuatu yang belum pasti, mengkhawatirkan kemiskinan yang belum terjadi . Di sisi lain, engkau justru tidak pernah cemas dengan sesuatu yang pasti terjadi , yaitu mati. Engkau malah bertanya-tanya, “ Bagaimana harga-harga kebutuhan pokok besok? Apakah stok pangan cukup sampai akhir bulan?” Padahal, kasih dan karunia Allah bisa datang dari arah tak terduga dan tiada kauketahui.

Sobat. Ketaatan yang paling disukai Allah adalah meyakini-Nya. Allah SWT berfirman , “ Datangilah rumah-rumah itu dari pintunya dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” ( QS. Al-Baqarah (2) : 189 ). Ketahuilah bahwa pintu rezeki itu terletak pada ketaatan terhadap Sang Pemberi Rezeki. Bagaimana mungkin rezeki-Nya diminta tetapi disertai dengan maksiat? Bagaimana mungkin karunia-Nya di mohon dengan cara menentang-Nya?

Rasulullah SAW bersabda, “ Karunia yang ada di sisi Allah tak mungkin diperoleh dengan membuat-Nya murka.” Artinya, rezeki Allah hanya bisa diminta dengan ridho dan taat kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “ Siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar , dan memberi rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan siapa yang bertwakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (keperluannya). ( QS. al-Thalaq (65) : 2-3 )

Sobat. keberadaan seorang hamba bersama Allah di dunia ini ibarat anak kecil bersama ibunya. Sang Ibu tidak mungkin membiarkan anaknya terlantar. Dia akan mengurus dan mengasuh anaknya dengan baik. Demikian juga kebersamaan orang beriman dengan Allah. Allah akan menjamin rezekinya, memberinya kenikmatan, serta melindunginya dari beragam petaka.

Sobat. Ketahuilah bahwa harta tidak mutlak tercela. Tidak semua orang yang giat mengumpulkan harta tercela dan mendapatkan murka. Yang tercela adalah kalau dia disibukkan oleh harta sehingga lupa kepada agama, akherat, dan ibadah; kalau dia menjadi budak harta dan hamba dunia.

Sobat. Mengelola harta untuk kepentingan akherat: Harta dikumpulkan demi dijadikan sarana menggapai kebahagiaan akherat dan dipergunakan untuk kepentingan dakwah dan ibadah dalam rangka menaati Allah SWT. Pemiliknya tidak sibuk memperkaya diri, tidak mementingkan harta, rajin membantu orang miskin, serta memudahkan orang yang kesusahan.
Sobat. Pengumpul harta terpuji yakni mengumpulkan harta dengan tujuan ; bisa makan dari hasil yang halal dan baik, bisa berinfak kepada fakir miskin, bisa menyambung tali silaturahim, bisa menjaga diri untuk tidak mengemis, bisa menjaga kehormatan.

Sobat. Sadarilah bahwa nilaimu ditentukan oleh kesibukanmu. Apabila engkau sibuk memperhatikan dunia, berarti engkau tidak punya nilai, karena dunia seperti bangkai yang tak bernilai. Tetapi , jika engkau memperhatikan akherat, berarti engkau tergolong orang bahagia dan bagus perhatiannya. Demikian penjelasan Ibnu Athaillah.

Sobat. Allah tak langsung mengabulkan doamu karena ingin melihat kadar kesabaran dan keimananmu. Allah ingin melihatmu lebih banyak berdoa dan berserah diri.

( Spiritual Motivator – DR.N.Faqih Syarif H,M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Sekretaris Komnas Pendidikan Jawa Timur. Majelis Kyai PP Al-Ihsan Baron Nganjuk. Dewan Pembina PP Al-Amri Leces Probolinggo Jawa Timur )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here