“Belanja Lebih Penting Dari Hidup”

“BELANJA LEBIH PENTING DARI HIDUP”

Oleh : Anik Nur Yulianingsih,S.Pd

Ramadhan telah di penghujung, sebentar lagi ia melangkah meninggalkan kita semua. Kehangatan bulan seribu bulan segera usai. Di masa yang akan datang, kita belum tentu berjumpa kembali. Meski sangat diingini.

Memang  Ramadhan tahun ini sangat special karena selain Ramadhan bulan keberkahan , kita diuji dengan wabah corona.  Virus ini sudah mendunia  karena penyebarannya sangat mudah dan bahkan bisa mematikan manusia. Maka untuk mencegah penyebaran virus corona, pemerintah berusaha menghimbau masyarakat  untuk memenuhi anjuran dan protokol kesehatan  dari pemerintah. Himbauan pemerintah mulai dari belajar, bekerja dari rumah, phisical distacing sampai dengan PSBB (Pembatasan Sosial  Berskala Besar}.

Namun apa kenyataan yang terjadi di lapangan. Sungguh sangat memprihatinkan. sebagian besar masyarakat tidak mengindahkan himbauan pemerintah. Mereka sangat meremehkan keberadaan virus corona yang semakin menyebar saat ini. Mereka tidak peduli bahwa sebetulnya pelanggaran ini bisa membahayakan nyawanya.

Dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Indonesia memiliki beberapa tradisi khas Lebaran yang hanya ada di Indonesia.  Kalau tidak salah ada 7 tradisi lebaran yang aku ketahui , antara lain: mudik, ketupat, bagi angpau, halal bihalal dan sungkeman, baju baru, kue kas lebaran dan takbiran. Tradisi itu hanya ada di Indonesia.

Yang aku soroti adalah tradisi belanja baju baru. Dengan adanya virus corona, saya kira tradisi itu bisa diminimaliser atau di kekang . Namun apa yang terjadi, khususnya  di daerahku kondisi saat ini tidak mempengaruhi semangat mereka untuk belanja baju baru. Kata siapa lebaran kali ini berbeda? Ternyata  semangat untuk berbelanja tahun ini lebih meningkat dari tahun kemarin. Bagi mereka, mungkin  corona membawa berkah. Banyaknya bantuan yang mengalir deras membuat mereka melupakan jumlah penderita yang terus bertambah.

Padahal tujuan pemerintah memberi bantuan berupa sembako atau uang tunai adalah untuk mengatasi kesulitan ekonomi keluarga di masa pandemi corona. Namun yang terjadi di lapangan khususnya di daerahku , sangat memprihatinkan sekali.  Setelah mendapat kan uang bantuan dari pemerintah, mereka pergi berbondong –bondong ke pasar untuk membeli baju baru, sandal baru  maupun perabotan rumah yang baru. Bahkan ada juga yang membeli mas n hanya untuk bergaya di waktu lebaran. Ada yang lebih memprihatinkan lagi, paket sembako bantuan dari pemerintah yang semestinya untuk cadangan makanan ,ternyata mereka  jual .  Yaah…, demi baju baru mereka rela menjual paketan sembako.

Apa mungkin mereka lupa, kalau banyak tempat ibadah yang ditutup. Apa mungkin mereka lupa, kalau saat ini sekolah ditutup , bahkan seperti bangunan kosong tak berpenghuni.  Apa mungkin mereka  lupa juga, kalau kami rela tidak mudik tahun ini. Yaah…,itulah sifat manusia. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. banyak ikita rela tidak mudik tahun ini.

Inilah bentuk kekhawatiran para petugas medis, setelah melihat situasi mall dan pasar yg sangat ramai dimana-mana. Mereka terlihat  egois, tidak memikirkan garda depan yang bertaruh nyawa ,juga  mempunya keluarga di rumah.Sangat memprihatinkan , di mana-mana  banyak tenaga medis yang menjadi korban corona yang tertular dari pasien. Tetapi lebih banyak orang yang belum sadar akan ancaman virus tersebut. Jangan sia siakan pengorbanan mereka hanya utk tradisimu semata.

 Saya sangat terharu melihat semangat para dokter dan tenaga medis dalam mengobati dan merawat pasien corona.  Hargai perjuangan mereka ,tetap di rumah jangan mudik dan bila ingin belanja demi menjaga semuanya lebih baik belanja lewat online. Masya Allah, jasa para garda terdepan, pahalanya luar biasa, apa lagi di bulan ramadhan ini,semoga menjadi pahala jariyah. Semoga Alloh selalu melindungi mereka semua, dan semoga Allah memberikan kesehatan, kekuatan, yang barokah, dijauhkan dari wabah ini. Aamiin Yaa Robbal Alamin

Patut diacungkan jempol bagi orang yang tidak mudik. Dengan tetap di rumah, maka kita bisa membantu tenaga medis yang lagi berjuang. Berarti itu salah satu usaha untuk memutus mata rantai penyebaran corona. Apabila dengan perjuangan ini masih belum bisa menghentikan pandemi corona, maka setidaknya kita telah berusaha.

Indonesia Jangan Menyerah….

Indonesia Pasti Bisa….

Bersama Kita Mampu….

#IedMubarak

#90HariMenulisBuku

#InspirasiIndonesiaMenulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here