Lusiana Andayani, istri almarhum Budi Juhanis bersama dua cucunya saat menerima telpon putranya yang di luar kota. FOTO BANGGA INDONESIA/Istimewa

Bangga Indonesia, Surabaya – Kabar almarhum Budi Juhanis terserang stroke sudah lama. Sepuluh tahun lalu, mantan salah satu pemain gelandang terbaik tim sepak bola nasional ini, berkutat dengan penyakitnya.

Tak heran jika rekan-rekannya yang satu tim di Persebaya era 1980-an, tak terkejut ketika mendengar kabar punggawa Persebaya Juara Divisi Utama PSSI Perserikatan 1988 itu wafat. Mereka yakin sekali Budi meninggal bukan lantaran virus corona (COVID)-19.

“Mas Budi meninggal di rumah. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit ketika stroke-nya kambuh untuk kali kedua,” jelas Lusiana Andayani, istri Budi Juhanis ketika ditemui banggaindonesia.com di rumah duka sebelum pemakaman suaminya, Rabu (03/03/2021) siang.

Stroke legenda Persebaya yang dikenal dengan tendangan cannon ball-nya itu, menurut nenek tiga cucu ini, berawal dari makan sate. Budi mengaku kambuh stroke-nya setelah makan sate di sebuah warung di kawasan Pucang, Surabaya.

“Dia nyuri-nyuri. Padahal sebelumnya tidak berani lagi makan sate kambing,” cerita ibu tiga anak ini.

Akibat dari sate itu, Budi “kolaps”. Seminggu dia tidak bisa bergerak. Hanya makan dan tidur di Kasur. “Kasihan anak ketiga saya. Dia baru berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja, bapaknya meninggal,” jelas Lusiana dengan tegar.

Karena itu, Lusiana tidak perlu menunggu anak ketiganya ini datang saat pemakaman. “Kasihan Mas Budi. Sudah terlalu lama nunggu pemakaman. Dia meninggal jam empat, 30 pagi tadi,” jelasnya.

Sebelum ini, Lusiana menyebut play maker brilian itu, masih beraktivitas kendati diterpa stroke. Sebab, Budi masih bisa berjalan kaki kendati tidak sempurna. Suaminya juga masih melakukan ibadah ritual secara rutin.

Sebelum mengalami stroke yang pertama, sepuluh tahun silam, aktivitas Budi tidak lagi bermain sepak bola setelah tim senior Persebaya dibubarkan. Budi merasa kecewa lantaran kemampuannya yang belum habis sudah harus dihabisi setelah Persebaya gagal mempertahankan gelar juara PSSI Perserikatan 1989.

Lusiana tak habis pikir. Budi enggan menyentuh bola lagi. Dia lebih suka berolahraga bulu tangkis, tenis dan bersepeda.

Selepas pensiun dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Surabaya, Budi juga tidak punya hasrat menjadi pelatih. Seperti yang dilakukan rekan-rekannya. “Pernah saya suruh untuk ikut Subangkit, dia malah marah-marah,” ceritanya.

Subangkit yang dimaksud adalah pemain belakang seangkatan Budi, yang pernah menjadi pelatih Arema Malang dan beberapa klub Galatama dan Liga I Indonesia. Subangkit sendiri yang juga ikut takziah bersama Syamsul Arifin, Mustaqim, Muharom Rusdiana, Maura Helly, Usnadi, Seger Sutrisno, Marsaid, Yusuf Ekodono, Supriyono, Lulut Kistono, M Asiek, Sentot, menyadari keberadaan Budi Juhanis.

Ia menilai tidak mungkin Budi yang masih aktif sebagai pegawai negeri harus mengorbankan pekerjaannya demi kepelatihan. Apalagi menjadi seorang pelatih harus mempersiapkan diri untuk mengikuti kursus kepelatihan dan ujian sertifikasi. “Kemampuan Budi sih ada untuk itu. Tapi dia sibuk dengan pekerjaannya,” katanya.

Tentang keinginan Lusiana istri Budi agar suaminya mengikuti jejak dirinya, Subangkit mengaku Budi tidak pernah berbicara soal itu. Juga Lusiana tidak pernah membicarakan perihal tersebut kepada dirinya.

Oleh karena itu, misteri kenapa Budi Juhanis enggan menekuni bidang kepelatihan mulai terjawab. Luciana sendiri juga tak bisa berbuat banyak. Dia pun akur saja dengan pilihan suaminya.

Budi ternyata lebh suka menikmati hari tuanya dengan anak cucu. Tidak lagi pusing dengan urusan bola. Dan, Budi mengakhiri hidupnya dengan beribadah dan bertenang ria bersama keluarga. Selamat jalan Cak! (aba)

BACA JUGA:Budi Juhanis, Pemilik “Tendangan Pisang” Itu Pulang dengan Tenang

BACA JUGA: Budi Juhanis Dikenal “Sutradara Kemenangan” Persebaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here