Dosen UMM dan peternak burung di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, melakukan budi daya maggot untuk pakan ternak burung dengan teknologi mesin (ANTARA/HO/UMM/END)

Bangga Indonesia, Malang – Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) melakukan pemberdayaan masyarakat untuk mempercepat budidaya maggot dengan sistem teknologi mesin.

PPMD yang diinisiasi oleh Bustanol Arifin, S.Pd, M.Pd bersama dua dosen lainnya yaitu Drs. Amir Syarifuddin, MP dan Frendy Aru Fantiro, S.Pd., M.Pd ini menggandeng kelompok Chang Bird Farm dan Veloved Bird sebagai mitra dalam kegiatan yang berlangsung di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Ketua kegiatan PPDM dosen UMM di Mulyoagung Bustanol Arifin di Malang, Kamis, mengatakan program pemberdayaan masyarakat ini sebenarnya berawal dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan oleh mahasiswa UMM.

Mereka melihat bahwa profesi mayoritas warga Desa Mulyoagung adalah peternak burung dan sebagian juga sudah mengembangkan proses pengolahan maggot sebagai pakan. Namun, proses pengolahannya masih dilakukan secara manual.

Kondisi itu menyulitkan para peternak burung terutama dalam mengelola maggot. Warga butuh waktu yang lama untuk mengolahnya. Selain itu, juga model pemasaran yang dilakukan kurang memadai.

“Berangkat dari hal itulah, akhirnya kami melakukan pembaruan di bidang teknologi, khususnya dalam budidaya maggot sebagai pakan burung,” ujar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM tersebut yang dirilis Antara,Kamis (04/02/2021).

Program ini berjalan sejak Agustus hingga Desember 2020. Meski begitu, proses pendampingan dan monitoring tetap dilakukan sampai saat ini. Utamanya dalam hal pemasaran produk hasil dari pengolahan.

Arifin menceriterakan terkait rentetan kegiatan yang ia dan timnya lakukan. Mulai dari pelatihan budidaya maggot, proses pengolahan pakan dengan mesin, serta pelatihan pengemasan dan pemasaran produk.

“Beberapa waktu lalu kami juga sempat memberikan bantuan mesin pencacah dan mesin pengering kepada warga. Mesin pencacah untuk membantu proses penghalusan bahan baku. Sementara mesin pengering untuk mempercepat proses pengeringan dari empat hari menjadi dua jam saja,” katanya.

Arifin berharap program ini dapat berkembang lebih luas lagi. Tidak hanya pada budidaya maggot saja, namun juga pada budidaya pakan ternak lainnya.

“Kami juga berkeinginan program ini dapat membawa keterampilan baru kepada masyarakat dalam pengolahan pakan burung. Lebih-lebih dapat membantu perekonomian masyarakat,” ucapnya. (aba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here