Ingatlah  seluruh Anggota Tubuhmu Akan Menjadi saksi di hadapan-Nya

Sobat. Allah SWT  berfirman  dalam  QS. Yasin (36) ayat 65 :

ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ   (٦٥)

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” ( QS. 36 : 65 )

Sobat.  Ketika menerima azab di neraka, ada sebagian dari orang-orang kafir yang mengingkari perbuatan-perbuatan jahat mereka di dunia sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:

Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan Allah.” (al-An’am/6: 23)

Sobat. Maka pada ayat 65 ini, Allah mengunci mati mulut-mulut mereka sehingga mereka tidak dapat berbohong maupun mendebat adanya perbuatan mereka. Apalagi tangan-tangan mereka kemudian berbicara dan kaki-kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan, sehingga mereka tidak mungkin lagi mengelak atas adanya perbuatan-perbuatan mereka yang melawan agama. Pada hari akhirat ini, hukum berlaku dengan seadil-adilnya sesuai dengan segala perbuatan mereka di dunia.

Sobat. Menurut riwayat Anas bin Malik dikatakan:Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Kami sedang berada di sisi Nabi saw, tiba-tiba beliau tertawa. Kata beliau, “Tahukah kamu mengapa saya tertawa? Kami menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau berkata,”(Saya tertawa) karena adanya pembicaraan antara seorang hamba dengan Tuhannya”. Hamba berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menyelamatkan aku dari kezaliman? “Ya benar, kamu telah Aku selamatkan”, jawab Tuhannya. Hamba berkata, ” Sesungguhnya aku tidak akan mengizinkan atas diriku kecuali seorang saksi dari padaku”. Tuhannya menjawab, “Cukup, kamu menjadi saksi atas dirimu dan para malaikat pencatat amal juga menjadi saksi”. Nabi saw lalu berkata, ” Kemudian mulut hamba tadi ditutup, lalu anggota-anggota badan diperintahkan untuk berbicara, “Bicaralah!”. Kata Nabi saw lagi, ” Maka anggota-anggota badan itu berbicara (sesuai perbuatannya). (Riwayat Imam Abu Ya’la al-Maushuli)

Sobat. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang persaksian anggota tubuh manusia terhadap perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia ini, di antaranya ialah firman Allah:

Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (an-Nur/24: 24)

Sobat. Allah menjadikan tangan dan kaki berbicara sebagai saksi karena tanganlah yang mengerjakan perbuatan itu, sedang kaki ikut menyaksikan apa yang dikerjakan oleh tangan itu. Jadi perbuatan tangan merupakan suatu ikrar atau pengakuan, sedangkan perkataan kaki merupakan persaksian.

Jika semua perbuatan buruk seorang manusia dibukakan dan diungkapkan selama hidup di dunia dan diketahui oleh orang banyak maka ia merasa malu dan merasa sukar menyembunyikan muka mereka. Bahkan banyak pula di antara manusia yang membunuh dirinya karena tidak sanggup menahan rasa malu itu. Di akhirat, mereka akan mengalami apa yang mereka tidak sanggup mengalami dan menanggungnya semasa hidup di dunia.

Sobat. Maka dari itu, jagalah  anggota tubuhmu, khususnya tujuh bagian tubuh berikut ; mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan, dan kaki.  Dalam Kitab Bidayatul Hidayah Imam Al-Ghazali  hendaklah kita menjaga diri dari dosa yang dilakukan tujuh bagian tubuh di atas.

  1. Menjaga diri dari dosa mata. Jagalah mata dari melihat wanita yang bukan muhrimmu. Jagalah mata dari melihat suatu bentuk cantik dengan nafsu, Jagalah mata dari melihat sesama muslim dengan  pandangan  tak  sedap, Jagala mata dari melihat dan mencari-cari kesalahan-kesalahan Muslim.
  2. Menjaga diri dari dosa telinga. Jagalah telinga dari mendengarkan fitnah, pengumpatan, kecabulan, perkataan sia-sia  atau pembicaraan  tentang keburukan-keburukan orang.
  3. Menjaga diri dari dosa lidah. Menjaga lidah  dari  berbohong, Ingkar janji, Mengumpat, bersitegang, berbangga diri, mengutuk, mengajak berbuat dosa, dan berolok-olok.
  4. Menjaga diri dari dosa perut. Jagalah  perut dari memakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah (hukum-hukum Islam) da yang meragukan kehalalan atau keharaman (syubhat). Mengupayakan apa-apa yang halal merupakan kewajiban  setiap  Beribadah  dan menuntut ilmu, sedang dia memakan yang haram, adalah seperti membangun di atas rawa.
  5. Menjaga diri dari dosa kemaluan. Jagalah kemaluanmu dari apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT.
  6. Menjaga diri dari dosa tangan. Jagalah tangan dari memukul sesama, dari menerima harta yang diupayakan  melalui cara yang haram, dari menganiaya makhluk apa pun, dari menyalahgunakan amanat, dari menulis kata-kata yang dilarang oleh Islam. Pena merupakan salah satu lidah manusia; maka dari itu, jagalah ia dari hal-hal  yang lidah tak boleh
  7. Menjaga diri dari dosa kaki. Jagalah kakimu  dari mengunjungi  tempat-tempat haram dan dari mendatangi  penguasa dzalim. Mendatangi  penguasa dzalim, bukan karena terpaksa, merupakan suatu dosa besar, sebab hal itu  berarti menghinakan diri di hadapannya  dan memuliakannya  walau  dia bergelimang dosa, Allah SWT  memerintahkan kita  untuk menjauh dari penguasa semacam itu.

Allah SWT  berfirman :

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

 (١١٣)

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” ( QS. Hud (11) : 113 )

Sobat. Jika kita  ingin menjaga anggota tubuh kita  dari dosa-dosa  maka  bersihkanlah jiwa kita, dan hal ini  dapat dilakukan  melalui ketakwaan  batiniah. Jiwa  merupakan  salah satu bagian darimu ; baiknya jiwa akan membuat  seluruh tubuh baik. Nah sucikanlah ia agar tubuh kita menjadi baik.

“Orang  yang  baik  ialah  orang yang baik  dalam pandangan Allah di rumah Akherat, meski  dia tak dikenal  oleh manusia, dan dia  senantiasa  mendambakan akhir kehidupan dengan khusnul khatimah.” Kata Imam Al-Ghazali.

( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Santripreneur. Dosen Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo. Ketua Dewan Pembina PP Kayyisul Ummah . Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here