Jawa Pos seperti Kapal Titanic

Abdul Muis, sang pencetus Pojok Kampung JTV
- Advertisement

Bangga Indonesia, Surabaya – Gedung Graha Pena berlantai 21 itu belakangan tampak lengang. Penyewa dan penghuninya memilih bekerja di rumah. Sesuai anjuran pemerintah. Virus corona bagai badai yang mampu menghantam perekonomian dunia.

Badai itu masih belum berlalu. Salah satu penghuni gedung milik Jawa Pos Holding ini, yakni Jawa Pos Koran, mengabarkan kena dampaknya. Pengurangan karyawan dan efisiensi dilakukan. Namun, efeknya justru bergolak.

Beda dengan dampak krisis ekonomi yang terjadi 22 tahun silam. Jawa Pos juga kena imbasnya. Orang menyebut krisis moneter. Namun, pengendali Jawa Pos bisa mengatasinya. Badai sudah berlalu!

Mantan karyawan Jawa Pos, pasti, tak akan pernah melupakan sejarah itu. Terutama saya. Yang punya pengalaman pribadi. Yang sangat mahal nilainya.

Anjloknya nilai rupiah terhadap dolar pada 1998, berimbas pada perekonomian nasional. Sendi-sendi bisnis dihantam oleh meroketnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Semua perusahaan kelimpungan. Dolar menembus angka fantastis. Rupiah merosot hingga Rp 14.150 ribu perdolar AS. Itu terjadi pada bulan Juli 1998. Yaitu, saat karyawan Jawa Pos tengah bahagia. Merayakan hari jadinya yang ke -58. Tapi apa artinya, Efek domino merosotnya rupiah itu, benar-benar membuat perusahaan yang mengangkat saya jadi karyawan pada 1987 ini, pun harus pasang kuda-kuda. Bakal ada penghematan dan restrukturisasi.

Padahal, saat itu kami baru saja boyongan. Menikmati markas baru. Hijrah dari “Kampung” Karang Agung ke gedung megah Graha Pena. Rasanya jadi hambar. Semula harus mengenakan dasi, akhirnya hanya gigit jari.

Cancut taliwondo!
Turun langsung ke medan laga. Bertempur untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan pemimpin.

Berjuang lagi!
Kerja.. kerja… kerja!

Kala itu, Jawa Pos benar-benar nyaris tenggelam. Dramatis. Bagai kapal yang terombang-ambing di tengah lautan luas. Guncang!

Sang “Kapten Kapal” Dahlan Iskan langsung menjadi nakoda. Mengambil kendali. CEO Jawa Pos ini mengumpulkan anak buahnya. Rapat Akbar di lantai 4 gedung Graha Pena, Jl. A. Yani 88 Surabaya, yang kini mentereng itu. Dahlan berteriak lantang. “Kita harus menyelamatkan diri dan menyelamatkan kapal yang akan tenggelam ini,” pekiknya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus meroket diakui Dahlan mengancam nasib Jawa Pos. Kondisi keuangan, omset iklan, biaya cetak Koran, bisa membuat perusahannya tenggelam.

Kapal Titanic
“Kita saat ini berada di dalam kapal. Kapal ini mau tenggelam. Seperti kapal Titanic,” begitu kata-kata yang saya ingat, ketika mantan menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, berada di tengah karyawan.

Kapal Titanic yang dimaksud Dahlan adalah kapal laut Inggris RMS Titanic. Kapal berpenumpang 2.200 orang ini tenggalam di Samudera Atlantik Utara. Tepatnya berada di sekitar 400 mil atau 644 kilometer selatan Newfoundland.

Kabarnya, kapal terebut menabrak gunung es pada 15 April 1912. Seribu lima ratus penumpangnya tewas. Tujuh ratus orang dinyatakan selamat. Tenggelamnya kapal Titanic ini disebabkan kelalaian nakodanya.

Logis sekali, Dahlan menganalogikan kondisi perusahaan yang dipimpinnya seperti kapal Titanic. Jika tidak bisa dikendalikan, bukan tidak mungkin akan membawa korban lebih banyak lagi. Apalagi badai laut datang di saat kapal hendak tenggelam.

Kami pun tegang, mendengar cerita Dahlan. Jidat “Sang Kapten Kapal” itu mengkerut usai bercerita. Ia kemudian memaksa tersenyum, dan mencoba menenangkan suasana rapat. Saya sendiri terkesima. Menghela nafas panjang. Apalagi, saya baru memasukkan sekolah anak pertama di SD Al Muslim. Sekolah swasta paling mahal di Sidoarjo.

Saya tidak ingin menjadi korban “tenggelamnya” kapal “Titanic Jawa Pos”. Kalau betul-betul tenggelam, habislah semuanya. Termasuk “Sang Kapten Kapal” he he.

Lalu, apa yang dilakukan Dahlan? Kami menunggu inovasinya. Kami tidak bisa menebak. Akan dikemanakan nasib karyawan? Dahlan memberikan beberapa solusi. Untuk menawarkan penyelamatan kapal dan diri karyawan. Bukan melakukan tindakan yang membuat karyawan kehilangan mata pencaharian.

Puluhan karyawan bagian redaksi harus memilih jalan yang terbaik. “Kapal ini harus melempar sekoci,” seru Dahlan lagi. Ia kemudian menawarkan beberapa karyawan untuk hijrah dari induk perusahaan: Jawa Pos.

Seorang karyawan bernama Wijoyo Hartono nekad. Ia mengacungkan jari telunjukanya. Senior wartawan olahraga, yang biasa disapa Tony ini, memecah keheningan. Saat rekan-rekannya terdiam. Memikirkan masa depan. Harus pindah kemana? Tony membuat kejutan. Mengejutkan Dahlan juga.

“Saya siap dimutasi Bos,” jawabnya sembari mengacungkan tangan. Ia memilih “terjun ke laut” lebih dulu. Sendirian.

Tony meminta Dahlan untuk menyetujui mengelola armada Jawa Pos. Menyatukan dengan bisnisnya. Persewaan mobil. Apalagi saat itu persewaan mobil lagi laris-larinya. Dan, Dahlan akur, Mengapresiasi keinginan Tony. Bapak tiga anak inipun dapat hadiah: aplaus dari rekan kerjanya. Ruang rapat darurat yang luas itu bergemuruh.

Tony berhasil mengispirasi rekan-rekannya. Termasuk saya.
Tony kemudian dipasrahi menyewakan mobil perusahaan. “Siapa yang menyusul saudara Tony. Atau, ikut Tony mengelola mobil-mobil perusahaan. Termasuk mobil dinas saya,” Dahlan terkekeh.

Wartawan Polda Jatim
Saya terperangah. Akhirnya ikut menyusul Tony. Saya siap dimutasi. “Bagus Muis,” puji Dahlan ketika saya juga ikut mengambil skoci. Saya kemudian bergabung dengan perusahaan travel yang mengelola umrah dan haji: BIA Travel. Yang dipimpin Haji Anas Sadurwan. Kini sudah almarhum.

Setelah saya hijrah, puluhan rekan redaksi harus lengser ke koran anak perusahaan baru: Suara Indonesia (SI). Koran ini kemudian meroket hingga mencapai tiras 100 ribu eksemplar.

Nasib baik. Karena diuntungkan dengan tumbangnya Presiden Soeharto. Dan, teman-teman yang dimutasi di SI kian kerasan. Ada yang sampai pensiun. Mereka sudah bisa menepuk dada. Punya Pride!

Sayang, ada seorang rekan yang kancrit. Ketinggalan. Tidak masuk gerbong wartawan yang dimutasi besar-besar di SI. Wartawan yang baru saja digeser di Biro Bangkalan ini, menolak dimutasi. Ingin tetap di kantor biro.

Tapi Dahlan bersikukuh. Kusnin harus hijrah. Dia menolak, mencak-mencak.
Betapa tidak. Kusnin yang barus baru saja dimutasi jadi wartawan daerah, kok, harus mutasi lagi. Apalagi pilihan yang diberikan tidak menguntungkannya. Jadi petugas keamanan. Security!

Wow…
“Ini mutasi yang tidak masuk akal,” keluh wartawan yang punya nama lengkap Imam Kusnin Achmad ini kepada saya saat itu.

Kenapa sampai disekurikan? Alasan Dahlan, kata Kusnin, lantaran dia punya latar belakang aktif sebagai anggota Barisan Serba Guna (Banser) NU. Dan, Kusnin, kini memang menjadi komandan Banser nasional. Sering memberi pelatihan sampai Papua.

Saya tidak tahu, setelah Kusnin menolak tugas baru sebagai sekuriti, terus kemana dia? Yang pasti, saya sendiri juga tidak betah bekerja di “sekoci” yang saya pilih.

Saya tidak produktif di BIA Travel. Bisnis umroh nyaris lumpuh. Pengaruh merosotnya nilai rupiah terhadap dolar, sangat mengganggu kinerja saya. Saya kian pesimis, bakal gagal menjalankan tugas.

Belum genap setengah tahun, saya minta mundur dari BIA Travel. Saya harus menyelamatkan diri. Harus bisa kembali bekerja di induk perusahaan: Jawa Pos.

Kebetulan, saat PWI Jatim merayakan hari jadinya, yang keberapa saya lupa, saya bertemu Dahlan. Dia menanyakan perihal pekerjaan saya di BIA Travel.

Jujur saya katakana apa adanya. Dahlan terkejut. Dia kemudian mengijinkan saya kembali bekerja di induk perusahaan: Jawa Pos. Lega rasanya!

“Tapi, anda tidak boleh kembali ke olahraga,” pintanya. Di kompartemen Olahraga Jawa Pos, pangkat saya memang sudah tinggi. Sebagai kepala kompartemen. Jadi kalau kembali ke induk perusahaan harus dari bawah lagi. Hilang jabatannya!

“Hubungi Ali Murtadlo (Redaktur Metropolis,Red.),” pinta Dahlan lagi. “Oke Bos. Siap, terima kasih banyak,” jawab saya senang.

Ali menyambut kehadiran saya. “Pak Dahlan minta Pak Amu turun ke lapangan,” perintah Ali. Saya mengangguk. Kebetulan pos di Mapolda Jatim kosong. Wartawan sebelumnya, Baehaqi diangkat jadi redaktur. Alasan lainnya biar saya tidak jauh dari kantor. “Pak Amu, bisa jalan kaki kalau meliput hehehe..” ledek Ali yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kompartemen Metropolis.

Saya akur saja. Saya tetap semangat walau harus turun ke lapangan. Yang penting saya bisa pulang kembali ke induk perusahaan.

Selama bertugas di Polda Jatim, saya berhasil membuat gebrakan. Pemberitaan di jajaran kepolisian yang lagi adem ayem, tensinya langsung naik.

Skandal korupsi di PDAM yang lama “dipetieskan” saya ungkap lagi. Saya bekerja sama dengan Kapolda Jatim yang baru Mayjen Pol M Dayat. Kini sudah almarhum.

Kapolda sepakat menjalin kerjasama. Korupsi berjamaah yang dilakukan bertahun-tahun di PDAM itu harus dibongkar. Setiap usai salat Jumat Kapolda saya wawancarai penanganan kasus ini.

Tidak ada wartawan yang menulis. Hanya saya tok. Hanya Jawa Pos yang berani muat. Hasilnya? Pemeriksaan kasus korupsi PDAM rampung. BAP-nya P-21 dan sudah masuk kejaksaan. Tinggal menunggu proses persidangan.

Namun, takdir menentukan lain. Tersangka utama Ir Husodo, selaku Dirut PDAM, keburu meninggal dunia sebelum sidang digelar.

Setelah itu, Dahlan memanggil saya. Dia minta saya kembali ke Malaysia untuk menjadi perwakilan Jawa Pos. Untuk kali keduanya. Tugas di Malaysia, selain menjadi perwakilan Jawa Pos, sekaligus mengurus perijinan pengembangan cetak jarak jauh di Kuala Lumpur.

“Coba Anda jajaki. Siapa tahu kita bisa bikin cetak di Kuala Lumpur. Atau bikin koran di sana,” perintah Dahlan waktu itu. Saya berangkat dengan membawa secarik surat jawaban kepada pihak sponsor di Malaysia, yang akan menjadi penjamin bisnis dengan Jawa Pos.

Kebetulan saat itu, Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim ditangkap polisi Malaysia atas tuduhan sodomi. Momentumnya pas. Saya kembali berkibar. Berita dari Malaysia heboh lagi.

Saya bekerja maksimal, lantaran tidak membawa keluarga, seperti yang saya lakukan pertama kali tugas di Kuala Lumpur tahun 1991. Keluarga baru menyusul sejurus setelah urusan visa kerja selesai.

Ciptakan Program Pojok Kampung
Hanya dua tahun kami tinggal d Kuala Lumpur. Setelah itu ditarik kembali ke Surabaya. Kembali ke Kompartemen Olahraga.

Setelah balik kandang, dua tahun kemudian dimutasi lagi ke Jawa Pos TV (JTV). Pak Dahlan sendiri yang minta langsung. “Muis, Anda kan punya pengalaman di ANTV. Tolong dibantu Arif ya. Masak JTV program beritanya begitu-begitu aja,” perintahnya.

Arif yang dimaksud Dahlan adalah Arif Afandi. Saat itu menjabat Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Dia masuk menggantikan Dhimam Abror yang digeser menjadi salah satu Direktur Jawa Pos Radar Timur (JPRT). Bersama Ali Murtadlo dan Wijoyo Hartono.

Arif meminta saya membantunya sebagai Eksekutif Produser News, Dia sendiri menjabat Direktur News JTV. Sebelum berkiprah di JTV, saya diberi hadiah meliput Piala Dunia Korea-Jepan 2002. Keren!

Inilah liputan agung yang saya impikan. Meliput Piala Dunia sama dengan “hajinya” wartawan Olahraga. Sepulang dari Korea-Jepang saya langsung gabung JTV.

Awal program pemberitaan yang dimiliki JTV saat itu hanya Rolling News. Dahlan tidak tertarik dengan nama program tersebut. Terlalu kemlondo. Keinggris-inggrisan.

Dahlan ingin yang out off the box!
Saya pun memutar otak. Berita kriminal dengan nama program: Borgol, tak menggugah simpatinya. Dahlan tetap “membisu”. Tak pernah mengajak saya ngobrol lagi, Saya penasaran, Pusing juga. Mau marah tidak bisa. Nah, pas dia bercengkerama dengan Imawan Mashuri (Dirut JTV) dan Arif Afandi di meja sekretaris redaksi, Oemiyati saya action.

Saya ambil selembar halaman kriminal Jawa Pos. Saya baca keras-keras agar ketiga orang itu dengar. Tapi saya tidak membacanya dengan bahasa umumnya: Indonesia.

Berita kriminal itu saya terjemahkan dalam bahasa Suroboyoan. “Jancuk, bapak ngencuk anak’e sampek meteng telung ulan,” kata saya hingga mengejutkan Dahlan. “eh… lucu iki, lucu iki ha.. ha..ha. Anda tadi baca berita di Koran itu ya,” timpalnya. Dahlan kemudian minta saya menerjemahkan lagi berita lain. Saya un memilih berta criminal, karena menarik untuk diterjemekan dalam bahasa Suroboyoan.

Gayung bersambut. Dahlan tertarik. Ia minta Imawan menyeriusi Program Boso Suroboyoan di JTV. Arif juga sepakat. Maka saya pun mengumpulkan dua eksekutif produser lainnya: Nanang Purwono dan Sentot Nurahman.

Bersama Nanang, Program Pojok Kampung itu terwujud. Presenter pertama yang kami rekrut adalah Festin Rochrih. Cewek kece yang pernah menjuarai Cak dan Ning Suroboyo. Selain Pojok Kampung, selama lima tahun berkiprah di JTV, saya bersama Arif Afandi berhasil melahirkan Program Olahraga Pojok Arena. Sempat dua kali live laga Persebaya di Bantul dan Lamongan.

Juga Program Pojok-pojok lainnya. Ada Pojok Perkoro, Pojok Ngalam. Hanya Pojok Pitu dan Pojok Kampung yang masih bertahan hingga kini.

Eksistensi dua program Pojok Kampung dan Pojok Pitu itulah sampai kini masih menjadi salah satu program yang menghasil uang. Konon dari program Pojok Kampung, omset iklannya luar biasa.

Pojok Kampung juga menjadi Iconnya JTV. Mahesa Samola mengakui itu. Setap kali bertemu saya. Putra mahkota Erik Samola ini, tidak pernah melupakan sejarah. Dia kini menjadi pewaris ayahnya sebagai salah satu pemegang saham Jawa Pos. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here