Kita Dekat Allah Lebih Dekat

Sobat. Sungguh, Allah begitu dekat  dengan  kita, Ia Mahadekat. Ironisnya, kita sering menganggap  bahwa Allah jauh dari kehidupan kita.Kita sering mempertanyakan  keberadaan-Nya, terutama ketika beragam ujian dan cobaan datang menimpa kita.

Sobat. Anggapan seperti ini tentu sama sekali tidak berdasar. Karena kalau kita mau jujur pada diri sendiri, sesungguhnya bukan Allah yang menjauh dari kita, tetapi kitalah yang menjauh dan menjaga jarak dengan-Nya. Perilaku  buruk  serta perbuatan  tidak terpuji yang kita lakukan dalam kehidupan  sehari-hari itulah yang  menjauhkan kita dari Allah. Semakin sering kita melakukan maksiat maksiat kepada-Nya, semakin jauh jarak kita  dengan Allah. Semakin kita bergelimang dosa, semakin tebal  dinding  pemisah antara  kita dan Allah.

Allah SWT  berfirman  dalam QS  Al-maidah (5) ayat 35 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (٣٥)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” ( QS. (5) : 35 )

Sobat. Allah memerintahkan orang-orang mukmin supaya selalu berhati-hati, mawas diri jangan sampai terlibat di dalam suatu pelanggaran, melakukan larangan-larangan agama yang telah diperintahkan Allah untuk menjauhinya.

Sobat.  Menurut sebagian mufasir, menjauhi larangan Allah lebih berat dibandingkan dengan mematuhi perintah-Nya. Tidak heran kalau di dalam Al-Qur’an, kata ittaqu yang maksudnya supaya kita menjaga diri jangan sampai melakukan larangan agama, disebut berulang sampai 69 kali, sedang kata ati’u yang berarti supaya kita patuh kepada perintah agama hanya disebutkan 19 kali.

Di samping menjaga diri memperketat terhadap hal-hal yang mungkin menyebabkan kita berbuat pelanggaran atau ketentuan-ketentuan agama, kita harus pula selalu mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah yaitu dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan mengamalkan segala sesuatu yang diridai.

Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Abu Wali, al-hasan, Zaid, ‘Ata, as-sauri dan lain-lain, mengartikan al-wasilah di dalam ayat ini dengan mendekatkan diri. Mengenai pengertian ini, Ibnu Kasir dalam tafsirnya (2/52), berkata:

Pengertian yang telah diberikan oleh para imam ini, tidak terdapat perbedaan antara para mufasir.

Kata wasilah ada kalanya berarti tempat tertinggi di surga, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Apabila engkau bersalawat kepadaku, maka mintakanlah untukku “wasilah”. Lalu beliau ditanya: “Wahai Rasullullah, apakah wasilah itu?.” Rasullulah menjawab, “Wasilah itu ialah derajat yang paling tinggi di Surga tidak ada yang akan mencapainya kecuali seorang saja dan saya berharap, sayalah orang itu.” (Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah).

Sobat. Ath-Thabari dalam tafsirnya  menjelaskan  bahwa wasilah adalah segala hal  yang dapat  mendekatkan seseorang kepada Allah SWT yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan.

Menjauhi dan meninggalkan larangan Allah serta melaksanakan perintah-Nya adalah hal-hal yang tidak mudah, karena nafsu yang ada pada tiap manusia itu selalu mengajak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan yang baik, yaitu melanggar dan meninggalkan perintah Allah sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Yusuf /12:53).

Prof. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya, At-Tafsir Al-Wajiz menyebutkan bahwa makna “ Ibtaghu ilaihi al-wasiilata” adalah ; Carilah jalan  yang  dengannya mengantarkan  kita pada ridho Allah SWT dan jalan itu adalah amal sholeh.

Oleh karena itu kita harus berjuang untuk mengekang hawa nafsu, mengatasi segala kesulitan dan mengelakkan semua rintangan yang akan menyebabkan kita bergeser dari jalan Allah agar kita berada di atas garis yang telah ditetapkan. Dengan demikian kita akan memperoleh kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh Allah.

Sobat. Kedekatan  seorang hamba  kepada Allah adalah  kunci  kebahagiaan hakiki. Ya kebahagiaan  yang  tidak hanya  bersifat sementara di dunia saja, tetapi juga  bersifat kekal di akherat kelak. Seorang hamba  yang  dekat dengan Allah akan selalu merasakan ketenangan  batin dan  ketentraman  jiwa. Dia juga selalu merasa  aman, karena dia yakin Allah akan selalu menjaganya, kapan pun dan di mana pun dia berada.

Sobat. Hanya  dengan  membersihkan jiwa kita dari dosa dan kembali  kepada-Nya, kita dapat dekat dengan-Nya. Semakin sedikit kotoran berupa dosa  dalam diri kita, semakin kita dekat dengan-Nya. Jika kita sudah dekat dengan-Nya, maka Allah pun akan lebih dekat dengan kita.

( DR Nasrul Syarif M.Si   Penulis Buku Gizi Spiritual dan Santripreneur Santri Milenial. Dosen Pascasarjana IAI Tribakti  Lirboyo. CEO Educoach, Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here