Air Sungai Mengalir Jernih di bawah Pesantren TEJ Ummul Quro Seloliman Trawas

Bangga Indonesia, Surabaya – Obati Nafsumu! Cinta Dunia merupakan Pangkal segala dosa.

 Sobat. Nafsu  laksana  cermin. Semakin  kau  musuhi, ia akan semakin memusuhi. Karena itu  serahkanlan kepada Tuhannya  agar Dia  memperlakukan  nafsumu  sesuai  kehendak-Nya. Mungkin kau  telah  penat  mendidik  nafsumu, tetapi ia  tak  juga   tunduk dan taat. Seorang  muslim  adalah  yang  menyerahkan  nafsunya  kepada  Allah  sesuai  dengan  firman Allah, “ Allah  telah  membeli  dari orang beriman, nafsu (diri) dan harta  mereka  untuk dibalas  dengan surga.” (QS. At-taubah(9) : 111)

Sobat.  Maksud  menyerahkan  di  sini  adalah  tunduk  dan taat  kepada Allah  Tuhan  semesta Alam.Menyerahkan  nafsu  kepada  Allah berarti ridha  dengan ketentuan Allah  dan hukum-Nya.  Sebagaimana  Allah  berfirman :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. ( QS.An-Nisa’ (4) ayat 65 )

Sobat. Pasrah  kepada Allah   terwujud  dengan   membersihkan  diri  dari  syahwat  yang  menentang  perintah  Ilahi, membebaskan  diri  dari  kehendak nafsu  yang  tidak  mau ikhlas kepada-Nya, serta  dari  rasa  berat  menjalankan syariat.

Sobat. Seseorang disebut  muslim  jika  ia  telah  menyerahkan  diri  dan  nafsunya  kepada Allah. Secara  lahiriah  ia  melaksanakan  perintah-Nya  dan  secara  batiniah  ia  pasrah  kepada  hukum  dan  kekuasaan-Nya.

 

Sobat. Ketika  nafsu  dalam  keadaan  sakit, ia  membutuhkan  pengobatan. Sakit  yang diderita  nafsu  disebabkan  oleh nikmat  maksiat  dan  syahwat. Keadaan  itulah  yang  membuat  hamba jauh  dari  Allah SWT. Agar  sembuh, ia  harus  diobati. Ketika  nafsu  diobati  dengan  membersihkannya  dari  dosa  dan berbagai  keinginannya, ia  akan  merasakan kedekatan  dan  kelembutan Allah  karena Dia  menutupi maksiatnya  dari makhluk. Ia  juga akan  merasakan  rahmat  dan karunia Allah, karena Dia menerima Taubatnya.

Dengan  begitu  sobat, nafsu  akan  datang  dengan sendirinya  untuk  taat  kepada Allah. Ia  merasakan  bahwa  manisnya  taat  lebih  nikmat  daripada  manisnya  maksiat. Hamba  yang  telah  mencapai  tingkatan itu  akan  meyakini  bahwa  musibah  yang  datang  berasal dari  Allah  dan  rezekinya  telah dijamin  oleh-Nya. Nafsunya  juga  tidak lagi  memusuhi pemiliknya  karena  percaya  dengan  apa  yang  berada  di sisi Allah.

Sobat. Di sinilah  butuh  istiqomah. Makna  istiqomah  adalah  kau  tetap  bersama Allah  dalam  setiap  keadaan  baik  dalam  keadaan  senang  maupun  susah, sempit  maupun  lapang, dengan selalu ridha  terhadap  pengaturan-Nya, meminta  pertolongan  kepada-Nya, takut  kepada-Nya, serta  meninggalkan  segala  sesuatu  selain-Nya.

Sobat. Cinta  dunia  termasuk  aib nafsu. Waspadalah  dirimu  dan jangan  sekali-kali  menganggap baik  keadaannya. Jika kau ridha  terhadapnya  lalu  menganggap  baik keadaannya maka  ia  akan  menggigitmu  dan  kau  tidak  menyadarinya. Ia  juga  akan  menghijabmu  dari  hadirat Allah  sementara kau  tidak melihatnya.

Sobat. Kau  telah  mengetahui  bahwa  cinta  dunia  merupakan  pangkal  segala dosa. Bagaimana  mungkin kau  merasakan  cukup  dengan  cinta  dunia  sementara  dunia  segera  sirna. Kehidupan ini  hanya  sebentar. Kau akan  berakhir dan pindah  menuju  kehidupan  barzakh  di  kubur. Setelah  itu  datanglah  kiamat  agar  kau  mengetahui  tempat  kembali yang  telah menantimu.

Sobat. Meridhai  nafsu  adalah  pangkal  segala  maksiat, kelalaian, dan syahwat. Sebaliknya  tidak meridhai  nafsu  adalah  pangkal  segala ketaatan, kesadaran, dan keterjagaan  diri. Karena itu, bawalah dirimu  kepada  kitabullah  dan Sunnah Rasulullah SAW. Ikuti Perintah Allah  dan  jauhi  larangan-Nya. Inilah jalan  yang benar.

( Spiritual  Motivator – DR. Nasrul Syarif, M.Si.  Penulis  Buku Buatlah Tanda di alam semesta. Direktur Pesantren TEJ Tahfidz, Entrepreneur dan Jurnalistik  Ummul Quro, Seloliman Trawas. Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here