Pedagang Pasar Yamuri Sutorejo “Kelimpungan”

Bangga Indonesia, Surabaya – Resah dan gelisah masih menggelayuti  perasaan pedagang Pasar Yamuri Sutorejo, Jalan Kalisari Surabaya. Hingga Kamis (09/10/2020) pasar tradisional ini masih sepi pembeli.

Keadaan itu terjadi setelah ada berita hoax tentang meninggalnya lima orang korban Covid 19 di pasar tersebut, Akibatnya? Seratus lebih pedagang kelimpungan. Kehilangan pembeli.

“Mereka sempat tutup total di hari pertama. Tidak jualan karena tidak ada pembeli. Alhamdulillah hari ini sudah mulai hidup lagi,setelah lima hari sepi,” jelas Abdul Mukti, pengelola Pasar Yamuri kepada media ini,

Ditemui di ruang kerjanya, Pasar Yamuri, pria asli Sutorejo ini menyebut berita hoox tersebut kali pertama dihembuskan seorang pedagang di grup WA (whatsapp) para pedagang. “Ia memperoleh kabar burung itu ada temannya dan dishare ke grup WA Jumat (04/09/2020),” jelas Mukti.

Isi berita Hoax itu begini:

Untuk diketahui, bagi yang beralamat d isekitar Mulyosari sampai dengan Kenjeran untuk lebih waspada.

Pasar Mulyosari Pasar Yamuri mendadak 5 tewas terserang Covid 19, puluhan pedagang dan pengunjung lari terbirit birit.

Hati hati kalau ke Pasar Mulyosari Yamuri dan Pasar Mulyorejo ZONA HITAM.

Dikuatirkan pengunjung2 ( pembantu RT yang sering belanja di Pasar Mulyosari, ada potensi tertular, sebaiknya lakukan Swab segera.

Berita ini kemudian merebak. Secepat api menjilat mangsanya. Pedagang pun kian resah karena keesokan harinya langsung sepi pembeli. Pedagang ikan bernama Iis langsung Rohmah stres,

Ikan dagangan ibu empat anak ini tak laku sama sekali. Begitu pula di hari berikutnya. Busuk!

Sisa ikan yang masih bisa diselamatkan akhirnya diolah sendiri. “Saya selamatkan dengan memanggangnya, Saya jual ikan panggangan di rumah,” keluh wanita berusia 38 tahun ini.

Karena itu, sampai hari kelima, setelah berita itu berembus, Rohmah hanya bisa menjual ikan dua kilogram. “Itupun tidak habis. Padahal jika ramai pembeli, saya bisa menjul sampai lima kilogram ,” akunya.

Sejak adanya isu itu, jualannya betul-betul drop. Pelanggannya takut masuk pasar. “Saya sudah rugi tiga jutaan. Hari Jumat dan Sabtu, tak ada pembeli sama sekali,” jelasnya..

Keresahan serupa juga dirasakan Sumar’in. Pedagang ayam potong yang karib disapa Ning Iin ini mengakui dampak berita tersebut membuat penjualannya turun drastis. “Hari ini saya sedia 12 ekor saja tidak habis,” jelasnya.

Sebelum ada berita hoax itu, dia bisa menjual ayam potong hingga 50 ekor. “Malah kalau sampai habis, saya harus nempil-nempil milik pedagang lain,” akunya.

Iin mengaku saat ini tidak berani spikulasi, membawa dagangan seperti sebelumnya. Sebab, kondisinya belum normal karena pelanggan masih belum berani ke pasar.

“Saya juga gak bisa melempar ayam yang tidak laku di sini. Kondisi ayam kalau sudah membiru sudah tidak laku. Harus dibuang,” akunya.

Karena itu, ia menyebut berita hoax itu benar-benar membunuh penghasilan pedagang Pasar Yamuri. “Ini membunuh sandang pangan orang,” hujat Iin.

Senada dengan Iin. Haji Ismail, pemilik stan kosmetik dan asesoris membenarkan dua pedagang barang basah itu paling besar kerugiannya. Kemudian pedagang sayur mayur. “Saya harap dalam waktu dekat kondisi pasar segera normal kembali,” jelasnya.

Ia menyadari untuk mengubah image dan psikologis konsumen tidak mudah. Kendati dia sendiri sudah membantah berita tersebut melalui media digital: Info Surabaya, E-100 dan Surabaya Digital.

Karena itu dia berharap adanya pemberitaan di media resmi ini, masyarakat paham soal benar tidaknya isu tersebut. “Wartawan sudah terjun ke lapangan dan bisa melihat sendiri di pasar ini tidak terjadi apa-apa,” ungkap bapak seorang anak ini.

Ismail menduga berita itu muncul karena ada oknum yang tidak suka dengan ramainya pengunjung Pasar Yamuri. Pasar yang dibangun di atas tanah 1000 meter persegi ini, menurut dia, paling disukai konsumen. Setiap hari pasar bukan jam 5 pagi hingga jam 10 pagi tetap ramai.

“Mungkin harganya lebih miring dan kondisi pasarnya bersih. Lha, kok aneh, pasar ini malah diisukan ada covid dan korbannya meninggal lima lagi,” ujarnya.

“Sangat tidak logis!” lanjut Ismail. Lima korban covid maninggal di pasar secara bersamaan, kemudian orang sepasar lari terbirit-birit. “Siapa yang mengarang berita sebodoh ini! Gitu kok dipercaya.”

Ia mengakui sebelum ada berita hoax itu, memang ada rencana pihak kesehatan dari kecamatan akan melakukan rapid test. Tapi pedagang yang dirapid test ternyata pasar sebelah. Pasar Tempu Rejo.

“Kabarnya, tiga orang dinyatakan reaktif. Mereka dikarantina dan katanya sudah bisa pulang,” jelas Ismail.

Sedangkan Pasar Yamuri, sampai sekarang belum ada pelaksanan Rapid Test. “Lha, ini janggalnya. Saya berani adu argumen kalau ada yang meninggal. Ini ada apa, wong yang dirapid test di pasar sana, kok yang diisukan ada yang meninggal di pasar sini,” jelasnya.

Lagi pula, rapid test itu dilakukan pada tanggal 1 September. Sedangkan berita yang disebarkan oknum tak bertanggungjawab itu pada tanggal 4 September. “Mana mungkin ada pasien belum diketahui positif langsung meninggal mendadak, dan lima orang lagi, Aneh bin ajaib,” ungkapnya.

Efek dari berita itu, menurut dia, lima hari Pasar Yamuri sep mamring. “Hari pertama langsung tutup, karena beritanya sangat menakutkan pedagang,” jelanya.

Pedagang kemudian berani kembali ke pasar setelah berdialog dan berdiskusi panjang di grup WA. “Mereka kita ajak berpikir positif saja. Kesimpulan kita berita itu hoax,” tegasnya.

Perihal tersebut, oleh pihak pengelola pasar juga sudah disampaikan kepada aparat  “Saya sudah melaporkan ke Polsek Sutorejo dan Danramil jika kondisi Pasar Yomuri hijau,” jelas Abdul Mukti.

Selain itu, pihaknya juga sudah menerapkan protokol kesehatan sejak adanya pandemi dan anjuran pemerintah. Bahkan, berbagai pihak dari Garnisun, Polsek dan Dinas Kesehatan dari kecamatan sering mengontrol langsung ke lapangan.

Tinjauan media ini, jiga melihat pihak pasar telah menegakkan protokol kesehatan. Saat hendak masuk pasar sudah ada satu tengki air untuk cuci tangan di sisi kanan. Serta bak cuci tangan plus sabun di sisi kiri. Pedagang dan pembeli juga wajib pakai masker. Begitu pula dua orang juru parkir juga bermasker.

Bhabinkamtibmas Polsek Sutorejo, Aiptu Nasaruddin saat dikonformasi media ini menyebut berita yang berkembang di kalangan pedagang dan masyarakat itu tidak benar. “Tidak ada kejadian orang meninggal di Pasar Yamuri,” tegasnya.

Informasi awalnya, menurut polisis asal Makassar ini, pihak dinas kesehatan kecamatan berencana merapid test pedagang di Pasar Yamuri awal September. Namun yang sudah dilakukan adalah di pasar sebelah. Pasar Tempu Rejo. “Pihak kecamatan sendiri belum menentukan kapan jadwalnya untuk Pasar Yamuri ini dilakukan,” katanya.,

Hasil rapid test di Pasar Tempu Rejo, katanya, terdeteksi tiga pasien dinyatakan reaktif dan harus melakukan isolasi mandiri. “Sudah dua minggu ini mereka menjalani pewatan intensif,” jelasnya.,

Tentang muasal isu di Pasar Yamuri itu, diakui Nasar, sapaan Bhabinkamtibmas ini berawal dari seorang pedagang yang ditelpon pelanggannya menanyakan perihal berita tersebut. Si pedagang itu hendak bertanya ke pengelola pasar, Abdul Mukti. Namun, dia keliru menge-share di grup WA pedagang.

“Saya sudah minta dia mengklarifikasi dan meminta maaf. Dia juga sudah menghapus share-share ran berita hoax itu,” ujarnya. Dan, Nasar menganggap persoalan sudah selesai. Tidak perlu ada yang harus diproses secara hukum.

Pihaknya hanya menghimbau kepada masyarakat, khusus pedagang, agar di situasi saat ini hendaknya jang mudah termakan isu. Jika ada berita yang tidak jelas hendaknya dikonfirmasikan dulu. Bisa melalui telepon.

‘Jangan langsung menge-shaare begitu. Saat ini, berita-berita soal covid sangat sensitive,” pesan Nasar saat menemui media ini di rumah, Abdul Mutik, Kamis (10/09/2020).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here