Pengorbanan & Pendidikan Tauhid Keluarga Nabi Ibrahim, Tauladan Sepanjang Masa  

Pengorbanan & Pendidikan Tauhid Keluarga Nabi Ibrahim, Tauladan Sepanjang Masa

 

Sobat.  Kisah agung keluarga Nabi Ibrahim AS – Sang Khalilullah – sebagai teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman, yang dengan amat indah Allah SWT rekam dalam QS. Ash Shafaat [37]: 100-113.

Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret keluarga sempurna dalam pengorbanan, pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati.

Allah SWT menguji Ibrahim AS, apakah kecintaannya kepada putra-nya, Ismail, melebihi cintanya kepada Sang Khalik atau sebaliknya (QS. Ash Shafaat: 102).

Situasi tersebut sama dengan yang kita alami sehari-hari, apakah kita akan mengutamakan Allah dan rasulNya, atau memilih tetap menggenggam ‘Ismail-Ismail’ lain di sekeliling kita?

‘Ismail’ kita adalah setiap sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban syar’I, dan menyebabkan kita mengajukan bermacam alasan dan dalih untuk menghindar dari perintah Allah SWT.

Sobat. Pengorbanan Nabi Ibrahim as. dalam menaati perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail as. Bagi Nabi Ibrahim as., Ismail adalah buah hati, harapan dan cintanya yang telah sangat lama didambakan. Akan tetapi, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim as. untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Allah SWT berfirman:

قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ

 “Anakku, sungguh Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih kamu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu.” (QS ash-Shaffat [37]: 102).

Menghadapi perintah itu, Nabi Ibrahim as. mengedepankan kecintaan yang tinggi, yakni kecintaan kepada Allah SWT. Ia menyingkirkan kecintaan kepada selain-Nya, yakni kecintaan kepada anak, harta dan dunia.

Demikian pula dengan Ismail as., putranya. Perintah untuk taat itu disambut oleh Ismail as. dengan penuh kesabaran dan ketaatan. Demikian sebagaimana yang dikisahkan di dalam firman Allah SWT:

قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

 “Ayah, lakukanlah apa saja yang telah Allah perintahkan kepada engkau. Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS ash-Shaffat [37]: 102).

Kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. tersebut telah menjadi teladan bagi kaum Muslim saat ini. Teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah kurban. Juga teladan dalam ketaatan, perjuangan dan pengorbanan demi mewujudkan ketaatan pada aturan Allah SWT secara kâffah.

Ketaatan kepada Allah SWT tentu tidak hanya sebatas pada hukum-hukum ibadah ritual saja, melainkan menaati seluruh syariah Islam yang mulia. Tentu kita yakin bahwa seluruh aturan hukum Islam yang berasal dari Sang Maha Pencipta ini pasti merupakan solusi bagi problematika umat manusia dan pasti mendatangkan maslahat.

Sobat.  Wujud ketaatan kepada Allah SWT itu adalah penerapan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita: mulai individu, keluarga, ekonomi, pendidikan, politik hingga negara. Sangat tegas Allah SWT memerintah kita agar terikat dengan seluruh aturan Allah SWT secara kaffah! Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).

Saat menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahulLah berkata, “Allah SWT memerintah para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan Rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariah (Islam); melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/565).

Patut diingat, ketaatan total terhadap syariah secara kaffah itu merupakan konsekuensi keimanan. Hal ini didasarkan pada banyak dalil al-Quran maupun as-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah SWT:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا

Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang telah engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS al-Nisa` [4]: 65).

Ayat ini dengan jelas menafikan keimanan seseorang hingga dia mau menjadikan Rasul saw. sebagai hakim dalam semua urusannya, disertai dengan sikap tunduk dan pasrah terhadap keputusan tersebut. Itu artinya, keimanan meniscayakan ketaatan pada syariah secara kaffah.

Sungguh tidak pantas seorang Mukmin menolak penerapan syariah Islam secara kaffah, secara total. Termasuk menolak apalagi sampai mengkriminalkan sebagian ajaran Islam, ajaran Islam tentang jihad dan Khilafah. Misalnya, Khilafah dituduh mengancam bangsa dan disamakan dengan ajaran Komunisme. Padahal Komunisme itu anti Tuhan, anti agama dan anti ulama!

Sobat. Hendaknya kita mengingat firman Allah SWT dalam QS At-Taubah [9]: 24.

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ

(Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri dan kaum keluarga kalian) yaitu kaum kerabat kalian, menurut suatu qiraat lafal asyiiratukum dibaca asyiiraatukum (dan harta kekayaan yang kalian usahakan) harta hasil usaha kalian (dan perniagaan yang kalian khawatir kerugiannya) khawatir tidak laku (dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya) sehingga hal-hal tersebut mengakibatkan kalian enggan untuk melakukan hijrah dan berjihad di jalan-Nya (maka tunggulah) nantikanlah (sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya) ayat ini mengandung makna ancaman buat mereka. (Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”).

Semoga  kita  bisa  mengambil  hikmah dan pelajaran serta suri tauladan dari keluarga Nabi Ibrahim AS dalam pengorbanan dan Ketaatannya kepada Allah SWT.

( Spiritual Motivator – Dr.N.Faqih Syarif H, M.Si   Penulis Buku Gizi Spiritual. Pengasuh 90 Hari Menulis Buku. Sekretaris Komnas Pendidikan Jawa Timur )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here