Ramadhan Datang, Sepi Sambutan

Ramadhan Datang, Sepi Sambutan ( Megengan )

Oleh : Hariyani

            Penyambutan datangnya bulan Ramadan selalu dirasakan penuh syukur oleh semua umat muslim. Ibaratnya penyambutan terhadap tamu, yaitu tamu agung yang dikirim oleh Allah. Karena bulan Ramadan adalah bulan istimewa, tentu kita akan selalu bergembira menyambutnya  dan akan memuliakannya. Berbagai acara kita akan gelar. Berbagai sajian akan kita siapkan. Ritual semacam ini selalu kita laksanakan setiap tahun menjelang bulan Ramadan.

Namun, perlakuan itu tidak untuk tahun ini karena penyambutan terhadap kedatangan bulan Ramadan yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Berbagai rutinitas yang dilaksanakan di bulan Ramadan sebelumnya hanya terlaksana sekitar 20%. Bukan karena  lunturnya budaya tapi karena ketaatan terhadap suatu aturan. Aturan yang diterapkan di tengah pandemi covid-19. Aturan yang diberikan untuk kepentingan bersama. Aturan untuk memutus mata rantai penularan virus covid-19.

 Penyambutan bulan Ramadan yang biasanya dilaksanakan dengan cara beramai-ramai, kini hanya boleh dilaksanakan dengan cara mandiri atau boleh berkumpul, tetapi dengan syarat tidak boleh lebih dari  sepuluh orang dan harus menjga jarak satu meter antar orang yang satu dengan yang lain.

Salah satu ritual yang biasa dilaksanakan di  daerah saya khususnya dan  umumnya di daerah Jawa Timur untuk penyambutan datangnya bulan Ramadan adalah dengan cara mengadakan selamatan atau yang disebut dengan megengan. Mengapa hal ini dilakukan, tentu mempunyai makna. Makna yang terkandung adalah wujud rasa syukur karena masih diberi kesempatan bisa menyambut kedatangan bulan Ramadan. Selain itu, juga bermaksud melakukan doa bersama dengan tujuan agar di bulan puasa nanti dapat menjalankan puasa satu bulan penuh, dapat menghindari semua perbuatan yang merusak pahala puasa sehingga semua amal ibadah di bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT.

“Ya Allah! Ramadhan telah hadir mendatangi kita, maka sampaikanlah kami kepadanya dengan selamat demikian juga sebaliknya. Anugerahkanlah kepada kami rezeki agar mampu melaksanakan puasa dan shalat malam di bulan Ramadhan. Karuniakan kami ketekunan, kesungguhan, dan semangat (dalam menjalaninya) dan kami berlindung kepada-Mu dari fitnah-fitnah yang ada dalam bulan Ramadhan.” (Abdurrahman An-Najdi, Wadhâ`ifu Ramadhân, 11). Doa-doa positif ini kita lantunkan untuk menyambutnya.

            Pelaksanaan tradisi megengan  ini ada berbagai cara. Ada yang menjalankan sendiri-sendiri dengan membuat menu-menu masakan khusus yang disebut ­berkatan yang diberikan kepada tetangga-tetangga terdekat, ada pula dengan cara membuat berkatan yang dikirim ke mushola terdekat. Tujuan dikirim di moshola adalah untuk dikumpulkan dan didoai bersama. Selain itu, jika mengirim ke musholla tidak memerlukan banyak biaya, karena per rumah hanya mengirimkan tiga nasi kotak atau takir.  Hal ini pun bertujuan agar makanan tidak banyak terbuang sehingga  tidak mubadzir. Bayangkan saja , seandainya semua rumah membuat nasi ­berkatan  dan diantar ke setiap rumah, dalam sehari bisa terkumpul 10 – 15 berkatan dengan sajian yang sama. Tentu makanan sebanyak ini tidak akan termakan semua, sehingga sisa makanan ada yang dijemur, diberikan ayam, atau bahkan ada yang dibuang,   Hal ini yang dilarang oleh agama.  

            Jika dikumpulkan di musholla, biasanya setelah sholat maghrib semua warga baik anak-anak, remaja, ataupun orang tua akan berkumpul di musholla untuk melaksanakan doa bersama. Membaca tahlil dan yasin, kemudian berkatan  akan dibagi pada setiap orang yang hadir.

            Namun, kondisi itu tidak dilaksanakan pada tahun ini. Adanya pandemi covid-19 yang menyerang seluruh bangsa sehungga membuat semua orang harus waspada akan penularannya.  Pemerintah pun membuat aturan yang bertujuan untuk menjaga keselamatan semua warga negara. Aturan harus dipatuhi oleh semua warga negara.  Seperti  pelaksanaan berdoa bersama di mushola atau tahlilan  yang semula dihadiri oleh semua warga baik anak-anak maupun orang dewasa kini hanya dihadiri oleh takmir musholla saja. Hal ini sebagai wujud                                     kesadaran akan usaha memutus mata rantai penyebaran virus.

Selesai mengadakan doa besama, makanan yang dikumpulkan oleh warga di mushola,  diantar ke rumah masing-masing secara acak. Yang dimaksud secara acak adalah warga akan menerima makanan baik dalam bentuk nasi kotak, nasi takir yang bahannya dari daun, ataupun yang ditempatkan pada baskom plastik. Mereka menerima tidak harus sesuai yang dikirim. Ini artinya sesuai dengan amal ibadah mereka katanya. Kalau memang mereka mengirim tanpa lauk ayam tetapi mnerima nasi kotak dengan lauk ayam, ya itulah rezeki mereka.

Acara penyambutan bulan suci Ramadan ini  biasanya juga dlakukan dengan bersih-bersih tempat ibadah. Kalau tahun-tahun sebelumnya, warga akan melaksanakan kegiatan kerja bakti. Ada yang mencuci karpet, ada yang mengecat dinding atau melakukan perbaikan-perbaikan perlengkapan yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan sholat tarawih. Akan tetapi, berbeda dengan tahun ini. Karena karpet sudah disimpan sejak adanya aturan phisicaldistancing maka tidak perlu harus segera mencucinya. Sesuai peraturan, jamaah harus membawa sajadah jika tetap sholat tarawih di masjid atau di mushola.

 Lalu apakah makna di balik fenomena ini? Ternyata, Allah tidak suka dengan kemeriahan yang hanya bertujuan untuk berlomba-lomba. Allah tidak suka hal-hal yang bersifat riya’. Cukup tinggal di rumah, bersihkan hati, bersihkaan pikiran, fokus akan segala amal dan ibadah yang dilaksanakan. Karena pada hakikatnya ibadah adalah hubungan manusia dengan Tuhannya. Bagaimana kedekatan kepada Allah yang harus selalu dikuatkan dan istiqomah. Allah meminta kita untuk merenung lalu berdialog dengan-Nya dalam suasana yang pribadi dan tenang. Ternyata, juga ada suatu kenikmatan tersendiri ketika kita tidak terlalu sering berkumpul-kumpul yang akhirnya ada tujuan lain yang mudhorot. Misalnya, ketika mengadakan selamatan bersama, tentu akan terjadi perbincangan yang tidak dianjurkan dalam agama. Tentu ada perbuatan yang tidak mengenakkan sehingga timbul ghibah.

Apa yang harus kita lakukan dalam kondisi seperti ini? Ikuti aturan sebagai usaha peningkatan kewaspadaan terhadap penularan covid-19 dan lebih mendekatkan diri kepada Allah agar kita terhindar dari semua perbuatan yang melanggar aturan-Nya dan terhindar dari virus ini.

Kapankah kondisi ini akan berakhir? Dan bagaimana dengan Ramadan di tahun depan? Semua terjadi atas Izin Allah, Allah selalu mempunyai rencana yang terbaik untuk kita semua. Tugas kita hanya menjalani dan berdoa. Berserah diri sepenuhnya kepada Allah akan membuat kita lebih tenang menghadapi kondisi ini. Yakin kepada Allah bahwa semua pasti akan diberikan solusi yang terbaik. Allah selalu menyelesaikan semua masalah kita dengan sangat sempurna.

#90HariMenulisBuku

#RamadhanMubarak

#InspirasiIndonesiaMenulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here