Para petani dilereng Gunung Bromo giat bercocok tanam di kala pandemi COVID-19. FOTO BANGGA INDONESIA/Alief Renald

Bangga Indonesia, Bromo – Jika berbicara tentang Bromo, kita akan teringat dengan wisata khasnya. Pegunungan nan-elok dengan ditemani hawa sejuk, dingin mengigil, serta lautan pasir yang menjadi ikon.

Juga, bila bincang tentang Wong Tengger, maka kita akan mengingat keramahan mereka. Kesehariannya bersarung. Dililitkan di leher hingga pundak.

Mereka banyak berprofesi sebagai penjual bunga Edelweis, jasa kuda, makelaran villa. Juga ada yang menyewakanJeep khusus Hardtop.

Apabila kita memperhatikan lingkungannya, saat menuju kawasan wisata taman nasional Gunung Bromo via Probolinggo, maka banyak menjumpai Terasiring. Berjajar di kanan dan kiri jalan menuju area wisata Bromo.

Letak geografis yang berada di pegunungan aktif, tentu membuat tanah di sekitar tempat wisata Gunung Bromo menjadi subur. Beberapa warga juga mengantungkan hidup dari bercocok taman.

Setelah melewati banyak Terasering, jurnalis media inipun sampai di loket. Inilah awal masuk taman nasional Gunung Bromo.

Setalah membayar tiket, ia menemui rekannya. Namanya Teja. Seorang petani dan sekaligus pemandu wisata.

Menurut Teja, sejak pandemi Covid-19, pemerintah menerapkan atrun protocol kesehatan dengan pembatasan pengunjung.

Akibatnya? Pendapatan warga turun drastik. “Lebih dari 50 persen,” keluhnya. “Turun jauh mas. Apalagi di hari aktif, “ sambungnya.

Karena itu, Teja hanya bisa menghabiskan waktu di ladang miliknya. Sesekali saja merangkap sebagai jasa sewaan kuda.

“Kadang juga menyewakan jeep sekalian nyupiri sendiri,” jelasnya.

Hampir warga desa di Tosari dan Wonokitri, mayoritas bekerja serabutan. Mata pencahariannya selain bercocok tanam juga menyewakan kuda dan jeep.

Pertanian di sekitar Bromo, menurut Teja, merupakan lahan pertanian yang mengandalkan musim. “Kalau musim hujan banyak warga yang menanam sayur kol, wortel dan kentang,” jelasnya.

Tetapi saat musim kemarau menanam bawang merah-putih dan daun bawang. “Ya, semua yang ditanam di sini tergantung musimnya mas,” tutup Teja.

Jurnalis: Alief Reginald

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here