Teruslah Tingkatkan Kualitas Diri

Sumber gambar google
- Advertisement

Teruslah Tingkatkan Kualitas  Diri

Sobat. Tanpa  kualitas , kecemerlangan tidak akan tercapai. Ketika  hendak melakukan amalan, tanyalah kepada diri sendiri ( dalam hati ), “ Apakah tujuan aku melakukan amalan ini?”  Kemudian  renungkanlah ke dalam hati anda  untuk mendapatkan jawabannya. Jangan lupa buang jauh-jauh niat yang jahat dari hati. Apabila  anda  menghasilkan suatu produk, tanyalah kepada  diri Anda, “ Sudikah aku menerima produk ini untuk diri sendiri?” Jika  Anda sendiri tidak sudi menerimanya, jangan diberikan  kepada orang lain.  Ingatlah sabda Nabi Muhammad  Saw  yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “ Sesungguhnya, Allah  itu suci bersih dan Allah tidak akan  menerima kecuali, yang suci bersih juga.”

Sobat.  Allah menuntut  setiap  individu  untuk melakukan ibadah  serta amal yang  berkualitas. Sebagaimana Allah berfirman  QS Al-mulk ayat 2 :

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” ( QS. 67 : 2 )

Dalam Tafsir jalalayn dijelaskan sebagai berikut ; (Yang menjadikan mati) di dunia (dan hidup) di akhirat, atau yang menjadikan mati dan hidup di dunia. Nuthfah pada asalnya sebagai barang mati, kemudian jadilah ia hidup; pengertian hidup ialah karena ia mempunyai perasaan. Pengertian mati adalah kebalikannya. Pengertian lafal al-khalqu berdasarkan makna yang kedua ini berarti memastikan (supaya Dia menguji kalian) atau mencoba kalian di dalam kehidupan ini (siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya) maksudnya yang paling taat kepada Allah. (Dan Dia Maha Perkasa) di dalam melakukan pembalasan terhadap orang yang durhaka kepada-Nya (lagi Maha Pengampun) kepada orang yang bertobat kepada-Nya.

Sobat Berkenaan dengan ayat di atas  Imam Ibnu Katsir  mengatakan, “ ( yang dimaksud dengan amalan yang baik (ahsan) ialah sebaik-baik amalan  dan  bukan  sebanyak-banyaknya amalan.”

Islam  sangat menekankan  kualitas dalam setiap hal. Dan kualitas itu harus  dimulai dari dalam hati, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan  Imam Muslim, Rasulullah Saw bersabda,”Sesungguhnya, Allah tidak melihat pada rupa  wajah  dan tubuh  jasadmu, tetapi Allah melihat pada hati-hatimu.”

Sobat. Islam  mempunyai prinsip-prinsip  kualitas. Setidaknya  ada delapan prinsip  kualitas ketika kita berpedoman dengan Al-Qur’an  dan As-Sunnah.

  1. Otoritas tertinggi tentang kualitas ialah Allah. Pakar  audit  tertinggi dan tanpa tanding tiada lain hanya Allah SWT  . Dia yang mengetahui  segala sesuatu yang lahir  dan yang batin. Berhadapan  dengan Allah SWT manusia tidak dapat menyembunyikan apa pun. Mereka  terpaksa menjaga kualitas  dalam  setiap hal dan keadaan. Allah berfirman dalam Surat at-Taghabun  ayat 18, “ Dialah Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

  1. Kualitas bermula dari dalam. Kebersihan hati adalah  dasar kualitas. Titik tolak dari kebersihan hati ialah keikhlasan dan kejujuran. Manusia  yang ikhlas  dan jujur tidak akan menipu, menerima suap, mengkhianati amanah, serta bersikap tidak peduli dalam hidupnya. Dengan melakukan hal tersebut, dia tidak hanya akan menghasilkan produk yang berkualitas, lebih daripada itu  dia  akan memastikan hasil yang seperti itu terjadi secara konsisten. Menurut Imam Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda,” Sesungguhnya dalam diri anak Adam  ada sekepal daging. Jika baik daging itu, akan baiklah seluruh jazad dan jika buruk daging itu, akan  buruklah  seluruh jazad . Daging itu ialah hati.”
  2. Kualitas harus ada  ukurannya, bukan  berdasarkan  pengakuan saja. Takwa  ada ukurannya. Ukuran  dasar yang harus dipatuhi adalah syariat. Jika seseorang  mengaku bahwa dia bertakwa sedangkan kewajiban yang pokok tidak dilakukannya, dia dianggap sebagai  seorang pendusta karena tidak menepati ukuran-ukuran takwa.
  3. Berkualitas pada setiap kesempatan, setiap  waktu, bukan sekali-kali. Allah mengawasi manusia setiap waktu, setiap detik. Umat Islam wajib menjaga kualitas Iman dan amalan mereka setiap waktu. Menurut Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda,” Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada.”
  4. Setiap orang adalah pemimpin. Setiap individu adalah pemimpin yang bertanggung jawab pada peranannya masing-masing. Jika setiap individu memelihara kualitas pekerjaannya masing-masing, produk yang dihasilkannya pasti berkualitas secara keseluruhannya. Rasulullah Saw bersabda, “ Semua dari kamu adalah penggembala dan semua dari kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.”
  5. Menilai sebelum dinilai. Pekerjaan amal manusia pasti akan dinilai oleh Allah di akherat nanti. Sebelum penilaian ini dibuat di akherat, sebaiknya penilaian diri sendiri dibuat dari waktu ke waktu sewaktu masih hidup di dunia. Khalifah Umar bin Khaththab  berkata, “ Hisablah dirimu  sebelum kamu dihisab.”
  6. Berkualitas secara holistic bukan hanya  di  beberapa  Islam merupakan agama yang lengkap, nilai-nilai kualitas harus diaplikasikan secara komprehensif. Menurut Imam Muslim, Rasulullah Saw bersabda, “ Allah menuntut agar ihsan (keelokan) terwujud dalam setiap hal.”
  7. Pengabaian merugikan  dunia  dan akherat. Kegagalan  mengikuti landasan kualitas yang Allah tetapkan  akan mengundang  kerugian di dunia dan  di akherat. Kerugian di dunia akan melanda dalam bentuk  kesempitan hidup, sementara di akherat dalam  bentuk adzab yang amat pedih. Sebaliknya, jika landasan kualitas ini dipatuhi, Allah akan mengganjarnya  dengan pahala dan rahmat dari sisi-Nya.

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. ( QS. Thaha (20) : 124 )

Sobat. Dikisahkan  sahabat Nabi Abu Talhah  ialah seorang Anshar yang kaya raya. Anas bin Malik meriwayatkan. Di antara  harta yang beliau miliki ialah  sebuah  tanah  yang  dikenal  sebagai Bairuha.  Setelah turunnya ayat 92 dari surat Al-Baqarah  yang artinya, “ Kamu tidak akan mencapai  kebaikan  sehingga kamu menafkahkan apa yang kamu cintai.”  Sahabat nabi – Abu Talhah  segera  pergi  menemui Nabi  dan berkata, “ YA Rasulullah . Saya ingin menyumbangkan tanah yang paling saya sayangi, yaitu Bairuha. Pemberian sumbangan ini saya lakukan karena  Allah.”

Kisah ini sobat. Menunjukkan  bahwa Allah menginginkan  umat Islam  mementingkan kualitas  dalam  pemberian mereka. Hal ini juga menunjukkan bahwa  para  sahabat  senantiasa  bersedia berkorban  demi melakukan amal yang berkualitas  yang berpedoman dengan tuntunan yang telah  Allah tetapkan.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa !

( Spiritual Motivator – DR.N.Faqih Syarif H, M.Si   Penulis  buku Gizi Spiritual dan Pengasuh Menulis Buku 90 Hari. Sekretaris Komnas Pendidikan Jawa Timur )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here