Tiga Pemateri Luar Biasa di Ngaji Jurnalistik

Abdul Muis alias Cak Amu saat menyampaikan materi Ngaji Jurnalistik di Pesantren Ummul Quro-Bangga Indonesia, Seloliman Trawas, Mojokerto, Sabtu (23/01/2021) . FOTO BANGGA INDONESIA/Bagus

Bangga Indonesia, Mojokerto – Tiga pemateri yang mengisi Ngaji Jurnalistik tampil luar biasa.

Acara yang diadakan Sabtu (23/01/2012) di Pondok Pesantren Mandiri Ummul Quro, Seloliman Trawas. Mojokerto ini, diisi tiga pemateri yang memiliki kompetensi di bidangnya.

Kemasan materi pelatihannya bukan sekedar untuk mengupas soal tulis menulis. Lebih dari itu.

Penyampaian materinya juga diselingi ilmu agama yang bagus dan bermanfaat secara dunia akhirat.

Sesi pertama Ngaji Jurnalistik diisi Abdul Muis selaku Pimpinan Redaksi Bangga Indonesia. Dalam suasana Trawas yang sejuk, wartawan yang kental dengan sebutan Cak Amu ini, menyampaikan materi dengan santai namun mengena di hati peserta.

Sembari diiringi hujan yang mulai mengguyur Pondok Pesantren Ummul Quro, senior wartawan Jawa Pos ini menceritakan masa hidup selama berproses mulai dari nol hingga menjadi senior wartawan seperti saat ini.

Cak Amu yang dijuluki “mbahnya jurnalistik” oleh rekan kerjanya ini memiliki sepak terjang dan masa kerja di dunia jurnalistik yang cukup lama.

LATIHAN MOTRET
Memasuki waktu malam hari, para peserta Ngaji Jurnalistik disajikan materi mengenai fotografi jurnalistik. Salman Al-Farisi, seorang Jurnalis Milenial yang memberikan materi bagaimana menjadi seorang fotografi untuk jurnalistik.

Dengan bermodalkan smartphone, para peserta melakukan praktik langsung dan mempelajari mengenai cara mengatur cahaya fotografi melalui smartphone.

Sebagai Redaktur Pelaksanaan Bangga Indonesia, Salman membawa lighting tambahan dan menjelaskan bagaimana kerja cahaya pada seni fotografi.

Peserta Ngaji Jurnalistik juga diajarkan bagaimana menjadi penulis buku oleh Faqih Syarif. Penyandang doktor Ilmu Komunikasi lulusan IAIN Sunan Ampel memberikan materi menjadi penulis dengan cara 5-M: melihat, membaca, menghayal, mendengar, dan melakukan perjalanan.

Sebagai motivator spiritual, Faqih menyisipkan materi memulai menulis hingga pemilihan tipe penulisan. Diantaranya penulisan fiksi, non-fiksi maupun faksi.

Peserta diajak untuk menjadi penulis dan menerbitkan buku dengan metode 90 Hari Menulis Buku.

Selain mendapatkan materi dari nara sumber, peserta Ngaji Jurnalistik juga dipertemukan dengan pengasuh Pondok Ustadz KH Suyuti Rosyad.

Selesai salat magrib berjamaah, bapak seorang anak ini mengucapkan selamat datang kepada peserta yang hadir. Ia berharap agar peserta bisa menyerap ilmu jurnalistik dan menulis yang diasuh oleh pakarnya.

Kiyai adalah alumnus Pondok Modern Gontor Ponorogo. Ia juga jebolan perguruan tinggi Ummul Quro Mekkah Al Mukaromah.

Selain itu, berhasil menimba ilmu di luar negeri, Kiyai Suyuti juga mantan seorang tour guide untuk jamaah yang ingin haji maupun umroh.

Banyak pengalaman hidupnya selama menjadi tour guide. Di antaranya keliling dunia sampai 50 negara.

Ia juga banyak cerita suksesnya mengawali ke dunia pendidikan. Sejak mendirikan Al Hikmah Surabaya bersama rekan-rekannya itu hingga kini punya dan pengasuh pondok pesantrennya sendiri.

Tak lupa para peserta Ngaji Jurnalistik juga mendapatkan tugas membuat berita, fotografi jurnalistik serta video jurnalistik 30 detik hingga satu menit.

Keseruan itu akan dilaksanakan keesokan harinya, Minggu (24/01) bersama melakukan outbond sekitar Pondok Pesantren Mandiri Ummul Quro.

Penulis: Sandi Dharma Imaduddi (Peserta Ngaji Jurnalistik Bangga Indonesia)

Sandi Dharma Imaddudi (kanan) serius mengikuti penyampaian materi Ngaji Jurnalistik di Pesantren Ummul Quro-Bangga Indonesia, Seloliman Trawas, Mojokerto, Sabtu (23/01/2021). FOTO BANGGA INDONESIA/Bagus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here