Berbekal Payung, Hujan Menjadi Ladang Uang

Anak anak penjaja "Ojek Payung" saat beraksi di mall dan perkantoran di Surabaya. FOTO BANGGA INDONESIA/Alief Reginal

Bangga Indonesia, Surabaya – Derasnya hujan yang mengguyur kota Surabaya membawa berkah bagi anak-anak kota di Surabaya. Hanya berbekal payung mereka bisa membawa uang ke rumah masing-masing.
Seperti turunnya hujan lebat di Surabaya, Selasa dan Rabu (20/01/02021) sore tadi. Berkah itu menyertai mereka sebagai “ojek payung”.
“Pekerjaan” ini sudah menjadi tradisi mereka saat musim hujan tiba. Kondisi yang kadang menjadi rintangan bagi banyak orang itu, justru membawa untung bagi mereka.
Para penjaja jasa “ojek payung” sering nampak beraksi di balik gedung bertingkat. Perkantoran dan juga mall-mall di jantung kota Surabaya. Seperti yang terjadi Selasa (19/01) lalu. Mereka berdiri berjajar di depan pintu masuk mall Jalan Pemuda Surabaya.
Sorot matanya tajam. Memandang setiap orang yang hendak keluar. Begitu ada konsumen yang keluar, mereka langsung merangsek. Menawarkan jasanya tanpa rasa malu dan canggung.
“Pak payung paaak. Payung buu,” ucap meereka senada ketika ada pegawai kantor atau pengunjung mall yang hendak keluar gedung.
Pakaian mereka basah kuyup. Tak menghiraukan dinginnya badan. Mereka sanggup mengawal peminjam payungnya hingag tempat parkir.
Adit, salah seorang anak penjaja ojek paying mengaku sangat menantikan turunnya hujan. Semakin deras dan tidak berhentinya hujan menjadi harapannya.
Pria berusia masa sekolah ini mengaku tinggal tidak jauh dari tempat mangkalnya. Rumahnya di sekitar perkantoran dan mall-mall itu.”Omah ku nak mburi kono mas (rumah saya di belakang situ, Mas),” ujarnya dengan logat Suroboyoan kental.
Adit mengaku sangat bahagia saat turun hujan. Selain bisa menikmati segarnya air hujan, juga bisa untuk mencari uang.
Karena itu, dia selalu berdoa agar setiap hari turun hujan, agar bisa mencari rezeki. ” Mandar mugo yo mas, bendino udan. Ben isok golek duwik (Semoga setiap hari hujan, Mas. Agar bisa cari uang),” ujarnya.
Berapa tariff yang mereka tok? Jasa “ojek payung” ini tidak mematok harga khusus. Kadang ada yang rela diberi Rp 2 ribu, ada pula yang narib Rp 5 ribu. Kadang ada yang menerima berapa pun pemberian konsumen yang selamat tidak kuyup sampai tempat parkirnya.
Uang hasil “ojek payung” ini menurut mereka ada yang dipakai beli kue alias jajan. Ada pula yang diberikan orang tuannya. Seperti Adit itu. “Uang e buat jajan, kalau lebih tak kasihkan orang tua,” pungkasnya. (Alief)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here