Bangga Indonesia, Magetan – Cerita hijrahku dalam sebait tatanan buku
Siti Farikha
Kala itu ,begitu banyak hal yang menimpa diri ini,hingga ku putuskan untuk mengurung diri dan mencoba neggoreskan semua luka yang ada dalam kertas putih yang begitu polos dan kosong.ku coba angkat pena yang tergenggam walau terasa begitu berat,brukkkk,tak berdaya diri ini mengangkat kepala sehingga ku letakkan kepalaku pada meja yg berada di kantor pondokku saat itu ,tangan ini pun sudah tak kuasa untuk melanjutkan tulisan dalam baris baris kertas putih polos itu,yg seakan menatap diri ini dengan rasa penasaran apa akhir dari tulisan ku ini,aku memang lebih suka menulis dan membaca,karena aku beranggapan bahwa semu itu akan sedikit menghilangkan beban pada diri ini,walau banyak teman pesantren yang tidak begitu suka dengan kebiasaan ku ini yang seolah aku hanya diam ,egois ,dan kutu buku,namun ,inilah aku inilah yang membuatku nyaman dan tenang, seringkali aku cekcok dengan temanku karena hal sepele ini karena kesalahpahaman mereka sendiri.sudahlah,abaikan saja soal teman itu ingat tujuan pertamamu berada di penjara suci ini”bisik hatiku,tak terasa aku pun terlelap tidur dalam sudut ruangan kantor pesantren ku,
Hingga akhirnya,salah seorang kakak pesantren ku pun membangunkanku dengan begitu lembutnya karena hanya dialah yang bisa memahami diriku di sini ,aku pun beranjak bangun dan menyiapkan diri ini untuk pergi menyiapkan setoran entah apa yang terjadi padaku saat itu,begitu ku mendengar kalamnya di lantunkan dengan begitu indahnya ,aku pun tertunduk meneteskan air mata tanpa ku sadari,hingga hatiku berbisik”apalah aku ini begitu lemah ,baru masalah sedikit saja langsung nangis ,ini tuh pesantren bukan rumah pasti banyak perdebatan lah entah itu kecil atau besar,ayo bangkit!!! Lihat itu temanmu sudah begitu banyak menghafal ayo bangkit!!!demi mahkota suci untuk malaikat yang tak bersayap yang selama ini sudah menemani dan merawatmu ayo bangkit!!!berikan dia hadiah dengan kalam yang sekarang engkau hafalkan”Astaghfirullah aku pun akhirnya tersadar dalam lamunan dan renungan ku itu,hingga akhirnya aku coba untuk menyiapkan hafalan Qur’an ku.
Setelah selesai setoran aku pun beranjak pergi,berjalan dengan santai sembari menikmati senja yang menatap dengan begitu hangat,sambil ku pikirkan apa yang tadi ku katakan pada diriku sendiri,kata kata itu selalu berada dalam lamunanku hingga rasanya begitu lelah diri ini memikirkannya,,tak kuasa aku menanggung semua ini akhirnya aku pun meluapkannya dengan tangisan,yang mungkin saja tiada satu pun yang tau ,karena sudut itu begitu sempit,sepi dan gelap,huftt akhirnya ku putuskan untuk beranjak pergi dan meninggalkan semua kesedihanku ini dahulu,
Keesokannya,,,aku pergi ke perpus pesantren yahhh,ini lah tempat favorit ku dalam menghadapi masalah,ku langkahkan kaki dalam perpus itu dengan spontan diri ini berhenti melangkah dan mata ini terpikat pada suatu hal buku yang berjudul”ku temukan cinta dalam istikharah”begitu ingin tangan ini menggapainya begitu ingin hati ini menyimaknya ,,,ku coba raih buku itu,namun ada salah satu buku yang terjatuh ku raih buku itu dengan rasa penasaran,hingga pada akhirnya ku baca judul buku itu yang tertulis begitu indah buku itu berjudul”cerita hijrah ku pada kematian yang hakiki”entah mengapa aku begitu ingin membacanya perlahan ku dudukan diri ini di bangku perpus dan sedikit demi sedikit ku buka lembaran buku itu hingga tanpa ku sadari aku seharian berada di perpus itu,begitu banyak air mata terjatuh,begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab,begitu banyak beban yang membibangkan buku ini benar benar menyisakan tangis,,ku sudahi membaca buku itu dengan hati yang begitu hampa ku tutup buku itu,sembari berfikir apa yang berada dalam buku ini,mengapa buku ini begitu banyak mengandung bawang,sosok perjuangan insan kecil yang seorang diri dalam mengejar surga unutuk malaikat yang sudah tak berada di sampingnya,ku sudahi untuk berdiam diri ku coba melangkahkan kaki dari perpus itu dengan badan yang masih gemetar,dan buku itu masih terpegang erat di tanganku.
Ku coba mendalami buku itu hari demi hari,ku coba renungkan semuanya,dan kini aku menemukan jawabannya,niat dan tujuan adalah yang terpenting tak perlu memperhatikan orang karena megurus diri kita sendiri saja memperlukan banya waktu,ku coba melakukan apa yang di lakukan anak kecil dalam buku itu”bersifa bodo amat dengan orang lain “dan itu berhasil membuat mental ini semakin kuat.
1 tahun pun silam ku lalui di setiap harinya dengan senyum,memang begitu tak mudah namun, itu lebih baik untuk semua ,semenjak saat itu aku menjadi pribadi yang lebih baik dan hubungan ku dengan temanku pun menjadi baik mencoba memperlihatkan kesenangan tanpa harus menyertakan kesedihan dalam setiap senyum yang merekah itu jauh lebih indah dari pada harus terdiam termenung di sudut yang begitu gelap bahkan tak bisa memberikan jawaban apapun.saat ini aku hanya fokus untuk mendalami sastra dan karena sejatinya aku mulai termotivasi dan semangat untuk bangkit karena sebuah buku berdebu kecil yang tertata begitu rapi hingga tak pernah di pegang orang,sekarang sastra bagai separuh bagian dari kehidupanku.percayalah semua itu akan indah pada waktunya:)
Biografi penulis
Siti farikha nurlutfia”Lutfia”lahir 30 Agustus 2005,sedang menempuh pendidikan di MAN 2 MAGETAN,dan sedang memenjarakan diri di penjara suci ppsa Miftahul Ulum Magetan.suka membaca dan lebih suka menuliskan bait bait sastra.mempunyai mimpi menjadi seorang penulis.
Masih mendalami hal halusinasi untuk menciptakan suatu karya yang akan di kenang dan masih mendalami dalam soal Sastra,tak perlu banyak basa basi karena masih penulis amatir salam komunikasi bagi para pembaca.