URGENSI MEMADUKAN KEMBALI SAINS DAN TEKNOLOGI DENGAN ISLAM

Urgensi Memadukan Kembali Sains dan Teknologi dengan Islam.

Oleh. DR. Nasrul Syarif M.Si.

Sobat. Mari kita tengok kembali catatan sejarah Islam, perilaku Ibnu Sina menggambarkan sosok seorang scientist yang memiliki kesadaran keTuhanan yang sangat tinggi. Bagi Ibnu Sina – Atau bahkan mungkin bagi para ilmuan muslim pada masa kejayaan dan kebesaran Islam – Keimanan kepada Allah sebagai Zat Pencipta menjadi sumber motivasi bagi setiap kegiatan keilmuan. Hal ini tampak dari ungkapannya sebagai berikut :

“ Jika ada persoalan yang terlalu sulit bagiku. Aku pergi ke masjid dan berdoa, memohon kepada Yang Maha Pencipta agar pintu yang tertutup bagiku dibukakan dana apa yang tampaknya sulit menjadi sederhana. Biasanya , saat malam tiba, aku kembali ke rumah, menghidupkan lampu dan menenggelamkan diri dalam bacaan dan tulisan ….” ( Ibnu Sina dalam Hoodbhoy, 1992 :193 )

Sobat. Kenapa hal di atas bisa terjadi dan menelorkan ilmuan yang memiliki kesadaran KeTuhanan yang sangat tinggi. Integrasi keilmuan yang sesungguhnya hanya akan terjadi jika ditopang oleh proses pembelajaran yang cukup kondusif. Kurikulum harus memberikan pengetahuan yang cukup kuat mengenai tsaqofah Islam.

Materi Pendidikan Islam harus memberikan terobosan yang bersifat membebaskan dari belenggu pemikiran dan nilai-nilai barat yang sekuler-materialistik. Dalam waktu yang sama, materi pendidikan Islam harus mengarah pada apresiasi transedental, yakni menumbuhkan kesadaran keTuhanan , serta mengarah pada proses transformative ( perubahan social ).

Sobat. Oleh karena itu, sistem pendidikan yang perlu dikembangkan ialah pendidikan Islam yang benar-benar dijiwai, dilandasi dan dikembangkan berdasarkan nilai-nilai Islam. Selama ini, tidak sedikit teori pendidikan Islam yang dibangun atas dasar paradigm sekuler-materialistik. Jika hal ini dijadikan keramgka berpikir untuk pengembangan pendidikan Islam, tentu saja kajian Islam tidak akan sampai pada kebenaran hakiki.

Tujuan untuk menciptakan pendidikan Islam yang membebaskan dan menumbuhkan kesadaran transendensi sulit dicapai. Pendidikan Islam yang dikembangkan selama ini ialah bertolak dari konsep Islamic Education for Moslem, yaitu pendidikan agama Islam yang pelaksanaannya menyesuaikan diri dengan pendidikan modern yang bertolak dari sudut pandang biofisik yang cenderung sekuler dan menghilangkan jiwa sehingga tidak terdapat sentuhan spiritual.

Sobat. Kesadaran keTuhanan harus menjadi factor bagi keberhasilan pendidikan. Ini merupakan basis yang sangat mendasar. Atas basis ini, dapat dilakukan spesialisasi sesuai dengan minat masing-masing. Kajian-kajian Islam lanjutan dapat menjadi salah satu pilihan spesialisasi. Selain itu, siswa dapat memilih spesialisasi lain, seperti berbagai keterampilan yang berasal dari sains dan teknologi, kewirausahaan, dan lain sebagainya.

Sobat. Sehingga indikator keberhasilan perwujudan integrasi keilmuan ialah sebagai berikut :
1. Adanya kesadaran keTuhanan yang sangat tinggi; tujuan hidup yang paling utama ialah mencapai ridho Allah. Sebut saja, terbentuknya kepribadian Islam.
2. Adanya kemampuan dasar tentang keislaman yang dapat mendorong ke arah transformasi sosial, yakni ‘ liberalisasi’ ( pembebasan dari nilai-nilai dan belenggu pemikiran barat yang sekuler ), ‘ humanisasi” ( menciptakan kehidupan yang lebih baik ) dan ‘ transendensi’ ( kesadaran religiusitas ).
3. Ketiga, adanya kemampuan memadai dalam bidang spesialisasi yang menjadi tujuannya. Hal ini, tentu memerlukan pengkondisian yang cukup baik.

Sobat. Alhasil integrasi ilmu berarti adanya keterpaduan penguasaan sains dan teknologi dengan ilmu-ilmu Islam dan kepribadian Islam. Ketinggian penguasaan ilmu-ilmu Islam bervariasi, bergantung pada potensi dasar seseorang dan tingkat pembelajaran yang dia lakukan. Ibnu Sina misalnya, dalam sejarah islam terkenal memiliki kemampuan ilmu-ilmu Islam yang sangat tinggi, selain menguasai ilmu-ilmu kedokteran. Dalam usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Quran secara sempurna.

Ketinggian Penguasaan ilmu-ilmu Islam diharapkan berkorelasi dengan kepribadian Islam – walaupun kepribadian Islam tidak sepenuhnya bergantung pada penguasaan ilmu-ilmu Islam, tetapi bergantung pada pembiasaan dan conditioning yang dilakukan seseorang. Kepribadian Islam, selain merupakan fondasi bagi pengembangan sains dan teknologi yang akan melahirkan sains yang bernuansa islami, juga menjadi sumber motivasi untuk mempelajari sains dan teknologi.

Sobat. Jadi dengan adanya konsep keterpaduan sains dengan agama, seperti pada pengertian di atas, sesungguhnya kita sedang berusaha mengembangkan sains yang berkarakter, yakni sains yang memiliki karakter kesadaran keTuhanan.

Sobat. Dalam konteks integrasi sains dan teknologi dengan ilmu-ilmu Islam, sumber motivasi yang harus dikembangkan tiada lain ialah aqidah Islam. Aqidah ini berada paling dalam pada pusat kepribadian seorang muslim, sebagai sumber motivasi. Motivasi ini akan melahirkan penilaian baik dan buruk, sikap terhadap sesuatu yang berada di luar dirinya, konsep diri serta pengetahuan dan keterampilan yang akan bermuara pada kinerja seseorang.

Dengan menjadikan aqidah Islam sebagai sumber motivasi, nilai, konsep diri serta hasrat memperoleh pengtahuan dan keterampilan, sebenarnya sudah tercapai reintegrasi sains dan teknologi dengan kepribadian Islam. Seorang saintis muslim yang melakukan pengamatan ilmiah akan selalu menyadari adanya hubungan dengan Allah SWT ( idrak sillah billah ), baik pada objek kajiannya maupun pada proses pekerjaan penelitiannya. Semua ini merupakan bagian dari upaya melaksanakan perintah Allah SWT dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan (qimah insaniyah ) atau untuk memperoleh nilai-nilai material ( qimah madiyah ) yang ia perlukan untuk kehidupan.

Namun demikian, menjadikan aqidah Islam sebagai sumber motivasi yang bermuara pada kompetensi yang melahirkan kinerja yang cukup baik dalam sebuah organisasi – organisasi social maupun perusahaan- sangat bergantung pada pemahaman dan apresiasi ajaran Islam. Karena itu, adanya pengetahuan dan apresiasi ajaran Islam yang lebih progresif dan memiliki keseimbangan antara orientasi dunia dan akherat merupakan sebuah keharusan dalam upaya mewujudkan reintegrasi ajaran Islam dengan penguasaan sains dan teknologi.

Daftar Pustaka

Abdullah, Muhammad Husein, al-Dirosah fi al-fikri al-Islamy ( Aman : Dar al-Bayariq
, 1990 )
Abdurrahman, Hafidz, Islam Politik dan Spiritual, ( Singapore : Lisan Ul Haq, 1998 )
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam dan Sekulerisme, terjemahan Karsijo Joyosumarno, ( Bandung : Pustaka , 1981 )
Al-Faruqi, Ismail Raji . Islamization of Knowledge : General Principles and workplan, terjemahan Anas Mahyuddin, ( Bandung : Pustaka, 1984 )
Amhar, Fahmi, TSQ Stories , ( Bogor : Al-Azhar Press, 2010 )
Ahmad, Yusuf Al-Hajj , Mukjizat Al-Quran yang tak terbantahkan, ( Solo : Aqwam Media Profetika )
Kh, U,Maman , Pola Berpikir Sains membangkitkan kembali tradisi keilmuan Islam, ( Bogor : QMM Publishing )
Thayyarah, Nadiah, Buku Pintar Sains dalam Al-Quran – Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah. ( Jakarta : Zaman ,2013 )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here