Minyak “Rebound” Terangkat Data Ekonomi AS dan China Yang Kuat

llustrasi - Minyak mentah sedang dipompa ke permukaan di Monterey Shale, California, Amerika Serikat.

Bangga Indonesia, New York – Harga minyak rebound sekitar satu persen pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), menutup beberapa kerugian yang mereka derita di sesi sebelumnya, terangkat oleh data ekonomi yang kuat dari China dan Amerika Serikat.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni menguat 59 sen atau 1,0 persen, menjadi ditutup di 62,74 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei bertambah 68 sen atau 1,2 persen, menjadi menetap di 59,33 dolar AS per barel.

Harga menguat setelah data menunjukkan aktivitas jasa-jasa AS menyentuh rekor tertinggi pada Maret. Sektor jasa China juga mengumpulkan tenaga dengan peningkatan penjualan paling tajam dalam tiga bulan.

Selain itu, Inggris berencana melonggarkan lebih banyak pembatasan virus corona pada 12 April, memungkinkan bisnis termasuk semua toko, pusat kebugaran, salon rambut, dan tempat rekreasi luar ruangan untuk dibuka kembali.

Pasar pulih dari kerugian tajam pada Senin (5/4/2021), ketika kedua harga acuan minyak turun sekitar 3,0 dolar AS karena meningkatnya pasokan minyak OPEC+ dan meningkatnya infeksi COVID-19 di India dan sebagian Eropa.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat pekan lalu untuk mengembalikan pasokan 350.000 barel per hari (bph) pada Mei, 350.000 bph lagi pada Juni dan 400.000 bph atau lebih pada Juli.

“Meskipun OPEC+ bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh sebagian besar pelaku pasar dan tim risetnya sendiri, meningkatkan produksi minyaknya secara signifikan selama tiga bulan ke depan, pasar sekarang memberi isyarat bahwa OK dengan itu dan siap untuk mendapatkan keuntungan dari kurangnya ketidakpastian bahwa pembaruan dari bulan ke bulan akan membawa hasil,” kata Louise Dickson, analis pasar minyak Rystad Energy.

Kematian terkait virus corona di seluruh dunia melampaui 3 juta pada Selasa (6/4/2021), menurut penghitungan Reuters, karena kebangkitan infeksi global menantang upaya vaksinasi di seluruh dunia.

Pembatasan baru di Eropa juga membebani harga.

“Hal ini kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran atas permintaan, mengingat bahwa, saat ini, sebagian besar prospek konstruktif untuk pasar minyak didasarkan pada asumsi bahwa kami melihat pemulihan permintaan yang kuat selama paruh kedua tahun ini,” analis ING Kata Warren Patterson.

Di Amerika Serikat, produksi minyak diperkirakan turun 270.000 barel per hari pada 2021 menjadi 11,04 juta barel per hari, kata Badan Informasi Energi AS (EIA), penurunan yang lebih tajam dari perkiraan bulanan sebelumnya yang turun 160.000 barel per hari.

Data industri mingguan tentang persediaan minyak AS akan dirilis pada Selasa (6/4/2021) pukul 16.30 waktu setempat (2030 GMT). Persediaan minyak mentah dan bensin diperkirakan turun minggu lalu.

Pejabat AS dan Iran akan memulai pembicaraan tidak langsung di Wina pada Selasa (6/4/2021) untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia, yang dapat menyebabkan Washington mencabut sanksi pada sektor energi Iran.

Goldman Sachs mengatakan setiap potensi pemulihan dalam ekspor minyak Iran tidak akan mengejutkan pasar, dan pemulihan penuh tidak akan terjadi hingga musim panas 2022.

Sementara itu, ketegangan antara Arab Saudi dan India memanas. Pabrik penyulingan milik negara India berencana untuk membeli 36 persen lebih sedikit minyak dari Arab Saudi pada Mei dari biasanya, kata tiga sumber. (ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here