Prasangka Baik menurut Wid
- Advertisement

Tetep Positif Thinking, Walau Kepala Ini Pening

oleh : Siti Zainaba Yusuf

Tidak semua orang siap dengan adanya perubahan sistem yang baru. Apalagi menyangkut rutinitas sehari-hari. Terlebih lagi perihal perubahan yang sepanjang hidup baru terjadi sekali, bahkan sepanjang sejarah bangsa ini. Istilah baru Lockdown jangan bikin hati jadi down. Tapi, kenyataannya banyak sekali yang merasa down. Program  tersebut muncul karena dahsyatnya pandemi. Meskipun terkadang diiringi berbagai bentuk kepanikan banyak orang, tapi nilai positifnya pasti banyak.  Melihat tayangan TV yang dari hari ke hari selalu menyajikan bertambahnya korban covid19, membuat nyali semakin menciut.

Berita hoax pun bertebaran dimana-mana tak jelas ujungnya. Tak jelas bermuara kemana, ngeri rasanya. Berbagai video editan yang sifatnya membuat orang menjadi bertambah panik semakin melaju kencang dalam sosmed. Dibagikan dari group satu ke group yang lain. Sementara itu, orang yang  paham  dengan berita hoax yang tersebar hanya sibuk menghapusnya, klik kanan, clear chat, beres katanya. Program di rumah saja pun dinikmati dengan kepanikan yang beraneka warna.

Slogan di rumah saja juga menggulirkan kebijakan dalam dunia pendidikan. Sekolah diganti dengan belajar di rumah aja. Para ibu yang semula gaptek, harus rela meluangkan waktunya untuk belajar. Program pembelajaran jarak jauh (PJJ) menuntut untuk selalu update informasi dan berbagai tugas sekolah putra-putrinya. Para guru pun yang semula juga gaptek, berlomba-lomba belajar dari rumah untuk mengikuti perkembangan penggunaan berbagai aplikasi dalam daring.

Peran ganda mulai dilakukan oleh semua orang tua di negeri ini. Peran sebagai guru di sekolah dan peran sebagai orangtua dilakukan terhadap putra-putrinya di rumah.  Awalnya, semuanya bisa ditangani dengan baik. Tapi, setelah satu minggu, benar-benar diperjuangkan yang namanya kesabaran orangtua. Orangtua harus memutar otak untuk membuat putra-putrinya bisa nyaman di rumah. Fasilitas internet menjadi hal yang sangat urgen. Dulu internet cukup hotspot lewat gawai, kini harus rela pasang wi-fi meskipun biayanya lebih besar. Semua itu dilakukan demi kenyamanan belajar putra-putrinya.

Romantika para ibu dalam mengkondisikan pembelajaran di rumah semakin bergelombang seiring dengan kepanikan ketika menonton tayangan TV yang mengusung bertambahnya korban virus corona.  Suka-duka terluapkan dalam story dan status mereka di sosmed. Mulai muncul konten-konten lucu dan menggelitik. Mulai ada unsur sindir sana-sini. Nyinyir sana nyinyir sini. Ghibah online jadi trending topiknya. Pokoknya hingar bingar sosmed dipenuhi dengan bebagai keluhan para orang tua dalam mengkondisikan belajar anaknya di rumah. Mereka baru menyadari bahwa tugas menjadi guru itu berat.

Sadarkah kita, bahwa selama ini ada tugas mulia yang sering kita tangguhkan. Tugas mulia yang selama ini banyak tertunda karena berbagai kesibukan kita. Tugas mengajari anak kita sering kita limpahkan kepada orang lain. Guru sekolah di pagi hari,  guru les  di sore atau malam hari. Program lockdown setidaknya menjadi peluang baru kita untuk menamami ladang dengan benih-benih tanggungjawab dan kedekatan untuk putra-putri. Kedekatan yang selama ini terabaikan, saat ini benar-benar dirasakan kebermaknannya.

Bangun tidur, seorang ibu biasanya disibukkan menyiapkan sarapan untuk suami dan putra-putrinya. Saat ini yang terpikirkan lebih dahulu adalah menyiapkan pembelajaran. Bangun tidur langsung bukak gawai. Yang dibuka terlebih dahulu, jadwal pelajaran dan  tugas dari guru kelas. Pembiasaan yang dilakukan oleh bapak ibu guru di sekolah, harus dilaksanakan di rumah. Awalnya biasa-biasa saja, tapi lama-lama putra-putri merasa jenuh juga. Ayah ibu juga merasa semakin pening. Berbagai macam cara digunakan untuk menghilangkan kejenuhan tersebut.

Belajar memandang sesuatu dari sisi positif adalah sesuatu yang sangat bermakna dalam hidup ini. Terlebih-lebih dalam kondisi saat ini. Memandang segala sesuatu dari sisi baiknya saja, meskipun kita tahu sisi buruknya. Kita abaikan sisi buruknya saja. Manut terhadap peraturan itu juga termasuk wilayah sisi positif. Semua itu akan melahirkan energi positif dalam kehidupan kita. Hati kita menjadi bersih dan mental menjadi semakin tertempa. Energi positif akan melahirkan imunitas dalam tubuh kita. Jiwa pun menjadi sehat dan tubuh pun menjadi sehat pula.

Memandang segala sesuatu dari sisi positifnya akan membuat kecemasan dan ketakutan yang sempat menghinggapi kita, lama-lama akan menjadi pudar. Positif thinking harus tetap kita pertahankan sampai kapanpun. Positif thinking tidak hanya berlaku untuk orang lain dan lingkungan sosial kita saja, tetapi hal tersebut kita kuatkan dengan Positif thinking kepada yang Maha Kuasa. Peristiwa yang terjadi selama ini tidak ada yang sia-sia. Semua ada manfaat dan hikmahnya. Bagi siapapun yang mampu memetik hikmah dari berbagai peristiwa yang saat ini terjadi, hidupnya pun akan semakin bahagia. Mau mencari apa lagi di dunia ini, kalau bukan kebahagiaan?

Wallahu A’lam Maa La Na’lam ….

#90HariMenulisBuku

#InspirasiIndonesiaMenulis

#StayAtHome

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here